Page 384 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 384

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                                          Ketetapan MPR no. 15/1996, seraya mengajak anggota
                                                          DPR/MPR untuk bersikap bijak dan tidak melupakan
                                                          kejadian kelam masa silam. Sementara pada tausyiah
                                                          kedua, MUI menegaskan bahwa jika pemberontakan
                                                          1965  berhasil  dilakukan  PKI,  maka  kehidupan  bangsa
                                                          akan menjadi parah, terlebih bagi komunitas umat
                                                          beragama. Maka penting bagi bangsa Indonesia untuk
                                                          selalu waspada terhadap bahaya laten Komunis dan
                                                          senantiasa bersatu untuk menghalau segala kesempatan
                                                          itu.

                                                          Distansiasi MUI dari pemerintah dan makin masuknya
                                                          lembaga ulama itu ke dalam wacana politik-kenegaraan
                                                          terpotret dari munculnya fatwa tentang suap, korupsi
                                                          dan hadiah kepada pemerintah pada tahun 2002. MUI
                                                          sendiri sejatinya tidak pernah mengeluarkan fatwa soal
                                                          ini sejak awal pembentukannya. Seperti telah diungkap
           Di era pemerintahan                            sebelumnya, pada masa itu MUI cenderung bersikap
           Abdurrahman Wahid (Gus   diam, malah melegitimasi kebijakan pemerintah. Di era Reformasi, sikap
           Dur), MUI kembali mengalami   MUI berbanding terbalik. Dalam kasus fatwa korupsi ini, MUI meraa perlu
           perubahan. Sistem keuangan
           dan hubungan MUI-pemerintah   mereprentasikan diri sebagai organisasi yang turut ambil bagian dalam gairah
           adalah beberapa bagian yang   perubahan dengan merespon tuntunan masyarakat yang menengarai massifnya
           paling jelas perubahannya.  tindak korupsi, suap dan gratifikasi di pemerintah.
                                                                                   71
           Sumber: Ensiklopedia Nahddatul Ulama:
           Sejarah, Tokoh dan Khasanah Pesantren.
                                    Kembali dengan terlebih dahulu mengutip beberapa ayat al-Quran, ditambah
                                    pendapat ulama Islam berpengaruh, MUI menyatakan bahwa memberi dan
                                    menerima suap dan korupsi adalah haram. Sementara pemberian hadiah kepada
                                    pemerintah dapat menjadi perbuatan yang haram ataupun tidak bergantung
                                    pada  konteks  dan  kemungkinan  akibatnya  (MUI  2002).  Penerbitan  fatwa  ini
                                    tampaknya tidak memberikan efek signifikan di masyarakat dan pemerintahan,
                                    karena korupsi terus mejadi penyakit yang menjalar, bahkan dengan skala yang
                                    lebih besar. Sudah begitu, fatwa ini terlihat  kurang memperoleh perhatian
                                    publik, jarang sekali menjadi perbincangan hangat media massa dan gerakan
                                    anti-korupsi.

                                    Hal lain yang banyak menyita perhatian masyarakat, baik nasional maupun
                                    internasioanl pasca pemboman gedung World Trade Center (WTC) di Amerika
                                    pada 2001, adalah maraknya tindakan terorisme yang dilakukan kelompok Islam
                                    radikal dengan menyasar simbol-simbol Barat-Kafir yang terdapat di Indonesia.
                                    Tempat wisata, kafe, hotel  dan kantor-kantor kedutaan besar asing  menjadi
                                    sasaran tindak kejahatan bom bunuh diri di tahun-tahun tersebut, mulai dari
                                    pengeboman di Kuta dan Legian Bali sampai pengeboman kedutaan Australia
                                    dan Hotel JW Marriot di Jakarta. Respon MUI atas kejadian ini terbilang lambat,
                                    karena ia baru mengeluarkan fatwa di tahun 2004. Fatwa soal terorisme ini
                                    intinya ingin membedakan terorisme dari jihad dan memberikan keputusan





                    368
   379   380   381   382   383   384   385   386   387   388   389