Page 380 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 380

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    MUI di Era Reformasi


                                    Tumbangnya rezim Orde Baru pada 1998 membawa banyak perubahan
                Gerakan Islam       dalam konstruk kebangsaan dan sistem pemerintahan Indonesia, termasuk di
             radikal-fundamental    dalamnya manifestasi gerakan dan politik Islam. Periode transisi demokrasi ini
              direpresentasikan
              dengan berdirinya     memunculkan kembali desakan kelompok radikal dan partai politik Islam untuk
             organisasi-organisasi   menuntut implementasi Piagam Jakarta yang dianggap sebagai simbol afirmasi
             seperti Front Pembela   Syariat Islam dalam konstitusi Indonesia.  Gerakan Islam radikal-fundamental
                                                                           62
            Islam (FPI, 1998), Laskar
            Jihad (LJ, 1999), Majelis   direpresentasikan dengan berdirinya organisasi-organisasi seperti Front Pembela
             Mujahidin Indonesia    Islam  (FPI,  1998),  Laskar  Jihad  (LJ,  1999),  Majelis  Mujahidin  Indonesia  (MMI,
              (MMI, 2000), Forum    2000), Forum Umat Islam (FUI), Jama’ah Islamiyah (JI), dan Hizbut Tahrir Indonesia
               Umat Islam (FUI),
              Jama’ah Islamiyah     (HTI) yang semakin terkonsolidasi meski memiliki akar sebelum era Reformasi. 63
             (JI), dan Hizbut Tahrir
             Indonesia (HTI) yang   Menguatnya  fundamentalisme  Islam  juga  meluas  ke  ranah  politik  dengan
            semakin terkonsolidasi
              meski memiliki akar   munculnya  Partai  Keadilan  (1998)  yang  kemudian  berubah  menjadi  Partai
            sebelum era Reformasi.   Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bulan Bintang (PBB), ditambah dengan PPP yang
              Fundamentalisme       mengubah asasnya menjadi Islam. Selain mendukung implementasi hukum
             Islam juga meluas ke
             ranah politik dengan   Islam di Indonesia, beberapa dari organisasi tersebut terkait dan bahkan terlibat
               munculnya Partai     langsung dalam konflik kekerasan agama di Indonesia. Beberapa di antaranya
             Keadilan (1998) yang   terlibat dalam mobilisasi “pasukan Islam” untuk diterjunkan ke wilayah konflik di
              kemudian berubah
            menjadi Partai Keadilan   akhir dekade 1990-an dan awal 2000-an. Sebagian lain terlibat dalam berbagai
             Sejahtera (PKS), Partai   tindak kekerasan terhadap etnis dan keyakinan minoritas serta tindakan main
             Bulan Bintang (PBB),   hakim sendiri kepada individu maupun kelompok yang dianggap bertentangan
              ditambah dengan
             PPP yang mengubah      dengan atau menghina keyakinan Islam mayoritas. Sementara yang terakhir,
            asasnya menjadi Islam.   PKS, menjadi saluran politik para aktivis muda Muslim kampus, dan menjadi
                                    kendaraan politik bagi para pendukung Islam revivalis.

                                    Namun demikian, di kutub lain, menguatnya eksklusifisme Islam di Indonesia
                                    kemudian menghasilkan respon berupa munculnya kelompok-kelompok Islam
                                                                        64
                                    yang bercorak inklusif, bahkan liberal.  Jaringan Islam Liberal (JIL) dibentuk di
                                    tahun 2001, di mana diakui oleh salah satu pendirinya sebagai organisasi yang
             Selain JIL, kelompok   dibentuk sebagai respon atas perkembangan gerakan Islam radikal yang selalu
               pengusung Islam                                                          65
            bercorak inklusif dapat   mengibarkan jihad dengan menggunakan kekerasan.  Selain JIL, kelompok
              disebutkan seperti    pengusung Islam bercorak inklusif dapat disebutkan seperti Yayasan Paramadina,
             Yayasan Paramadina,    Wahid  Institut,  Jaringan  Intelektual  Muda  Muhammadiyah,  dan  kelompok-
            Wahid Institut, Jaringan   kelompok lembaga swadaya masyarakat (LSM) pro-demokrasi dan HAM.
               Intelektual Muda
             Muhammadiyah, dan      Era Reformasi mengubah MUI dalam banyak hal, mulai dari struktur
             kelompok-kelompok
              lembaga swadaya       keanggotaan sampai dengan kegiatan dan kecenderungan fatwa yang
            masyarakat (LSM) pro-   dikeluarkan. Pasca-1998, seiring munculnya ormas-ormas Islam bercorak
             demokrasi dan HAM.     konservatif-radikal, keanggotan di tubuh MUI terlihat lebih didominasi oleh
                                                                          66
                                    perwakilan dari kelompok Islam tersebut.  Visi MUI juga mengalami perubahan,
                                    terutama dalam konteks objek fatwa dan hubungan MUI dan negara. Munas
                                    MUI tahun 2000, misalnya, menghasilkan rumusan baru visi organisasi, di mana
                                    isinya  menyatakan  bahwa  MUI  merupakan:  1)  pewaris  para  nabi  dalam  hal






                    364
   375   376   377   378   379   380   381   382   383   384   385