Page 376 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 376

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







                                    MUI di Era Orde Baru


                                    MUI lahir dari rahim Orde Baru. Soeharto sendiri dalam pidato pembukaan di
                                    musayawarah nasional (Munas) pertama MUI menyatakan bahwa MUI memiliki
              MUI memiliki peran    peran  sebagai  berikut:  1)  penerjemah  konsep  dan  kegiatan  pembangunan
              sebagai berikut: 1)   masyarakat  baik  di  tingkat  nasional  maupun  lokal;  2)  badan  penasehat  bagi
            penerjemah konsep dan   pemerintah terkait permasalahan keagamaan; 3) mediator yang menjembatani
            kegiatan pembangunan
               masyarakat baik      hubungan antara pemerintah dan ulama; dan 4) media musyawarah para ulama
                                                                                             48
              di tingkat nasional   untuk membahas tugas dan tanggungjawab sebagai ulama.  Dukungan rezim
               maupun lokal; 2)     saat itu terhadap MUI tidak berhenti sebatas fasilitasi program. Selama kekuasaan
               badan penasehat
               bagi pemerintah      rezim Orde Baru, MUI selalu mendapatkan alokasi dana dari pemerintah, dan
             terkait permasalahan   baru beberapa tahun belakangan saja kucuran dana dari negara dihentikan.
                keagamaan; 3)
                mediator yang
                menjembatani        Kondisi di atas, ditambah dengan produk fatwa dan kedekatan personal
               hubungan antara      maupun  kelembagaan  antara  tokoh  MUI  dan  pemerintah,  membuat  banyak
               pemerintah dan       kalangan berkesimpulan bahwa MUI sama sekali tidak bisa bersikap independen,
                ulama; dan 4)
              media musyawarah      terbebas dari kepentingan-kepentingan rezim penguasa. MUI, menurut mereka,
              para ulama untuk      adalah organisasi yang sengaja dibuat untuk menetralisasi kekuatan politik Islam
               membahas tugas       yang pada banyak kasus berseberangan dengan rezim Soeharto. MUI adalah
             dan tanggungjawab
                sebagai ulama.      organisasi yang diciptakan untuk memecah sekaligus menetralisasi Islam sebagai
                                    salah satu kekuatan politik terbesar Indonesia, mengatur kehidupan publik dan
                                    meyakinkan  masyarakat  untuk  memilih  Golkar  dalam  Pemilu.   Bahkan,  MUI
                                                                                                49
                                    dinilai tidak lebih dari perwujudan birokratisasi Islam dalam bentuknya yang
                                    paling nyata,  yang hanya menjadi penyetempel kepentingan negara pada saat
                                                50
                                       51
                                    itu,  meski peran ini akhirnya juga tidak berjalan maksimal.

                                    Namun demikian, MUI bukanlah badan negara yang pembentukannya berdasar
                                    pada sumber hukum tertentu. Ia tetap merupakan organisasi non-pemerintah,
               MUI merupakan        di mana pimpinannya dipilih oleh para anggotanya secara berkala. Meskipun
               organisasi non-
               pemerintah. MUI      pemerintah berandil sangat besar pada proses pembentukannya, MUI
             sesungguhnya tidak     sesungguhnya tidak selalu mendukung kepentingan atau keputusan pemerintah.
              selalu mendukung      Beberapa tokoh ulama anggota MUI tetap bersikap independen, bahkan
              kepentingan atau
                                                                                                             52
            keputusan pemerintah.   lebih  mengutamakan  kepentingan  rakyat  ketimbang  tuntutan  pemerintah.
             Tiga fatwa MUI yang    Terkait dengan posisi MUI yang tidak selalu supportive terhadap pemerintah,
            berseberangan dengan    penelitian Atho Mudzhar misalnya membuktikan bahwa dari 22 fatwa yang
              posisi pemerintah
             tersebut adalah fatwa   dikeluarkan MUI sejak 1975 sampai dengan 1988, hanya delapan fatwa yang
             terkait pengharaman    dapat diklasifikasikan mendukung kebijakan pemerintah, tiga di antaranya
             aborsi, soal haramnya   malah bertolak belakang dengan posisi pemerintah, sementara sisanya bersikap
                fasektomi dan
                                          53
               tubektomi dalam      netral.  Tiga fatwa MUI yang berseberangan dengan posisi pemerintah tersebut
              program keluarga      adalah fatwa terkait pengharaman aborsi, soal haramnya fasektomi dan
              berencana, dan soal   tubektomi dalam program keluarga berencana, dan soal pelarangan (haramnya)
            pelarangan (haramnya)
               umat Islam untuk     umat Islam untuk mengucapkan dan menghadiri perayaan hari raya Natal.
              mengucapkan dan
             menghadiri perayaan    Fatwa haram atau pelarangan Muslim untuk turut berpartisipasi dalam
               hari raya Natal.
                                    perayaan hari raya umat Nasrani, Natal, menjadi fatwa kontroversial pertama




                    360
   371   372   373   374   375   376   377   378   379   380   381