Page 371 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 371

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           gubernur jenderal rancangan Snouck Hurgronje.  Meski diakui pemerintahan
                                                         35
           kolonial, kewenangan peradilan agama sangat terbatasi. Fungsi kerjanya malah
           sangat bergantung pada kebijakan rekomendasi tim penasehat gubernur
           jenderal.

           Ketegasan pemerintahan Republik Indonesia soal posisi peradilan agama lahir
                                                                                              Ketegasan
           pada masa Orde Baru dengan dikeluarkannya UU No. 14/1970 yang membagi         pemerintahan Republik
           kekuasaan kehakiman pada Peradilan  Umum, Peradilan Agama, Peradilan           Indonesia soal posisi
           Militer, dan Peradilan Tata Usaha Negara. Pengokohan lembaga ini kemudian     peradilan agama lahir
           semakin dinyatakan pemerintah dengan dikeluarkannya UU No. 1/1974 tentang      pada masa Orde Baru
           perkawinan, diikuti beberapa peraturan pelaksanaannya. Tahun 1989, dengan     dengan dikeluarkannya
                                                                                          UU No. 14/1970 yang
           dikeluarkannya UU No. 7 yang kemudian diamandemen beberapa kali sampai         membagi kekuasaan
           dengan 2009 membuat lembaga peradilan agama makin jelas status hukum             kehakiman pada
                                                                                           Peradilan Umum,
           dan kewenangannya. Ditambah lagi kehadiran UU No. 3/2006 yang mengatur          Peradilan Agama,
           soal pembinaan teknis yustisial, organisasi, administrasi dan keuangan peradilan   Peradilan Militer,
           agama, keberadaan lembaga ini makin jelas signifikansinya dalam bingkai hukum   dan Peradilan Tata
                                                                                            Usaha Negara.
           Indonesia. Ia menjadi sarana utama umat Islam Indonesia dalam penyelesaian     Tahun 1989, dengan
           kasus-kasus hukum keislaman yang bersifat formal yuridis, tidak untuk persoalan   dikeluarkannya UU
           hukum Islam yang normatif. 36                                                  No. 7 yang kemudian
                                                                                             diamandemen
                                                                                          beberapa kali sampai
           Pada perjalanannya, tuntutan Reformasi hukum yang sudah bergulir sejak 1998   dengan 2009 membuat
           akhirnya juga berimbas ke peradilan agama. Pada tahun 1999, pemerintah          lembaga peradilan
           mengeluarkan UU No. 35 yang merupakan koreksi atas UU No. 14/1970 soal          agama makin jelas
                                                                                           status hukum dan
           pembagian kekuasaan kehakiman. UU tahun 1999 ini merupakan landasan             kewenangannya.
           yang menjadi perantara untuk proses penyatuatapan semua badan peradilan di
           bawah Mahkamah Agung, baik dari sisi teknis peradilan maupun adminstrasinya,
           sampai pada urusan finansialnya. Amendmen ketiga UUD 1945 disusul dengan
           pengesahan UU No. 4/2004 makin menegaskan penyatuatapan kekuasaan
           kehakiman itu. UU tersebut menyatakan bahwa “Kekuasaan kehakiman
           dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada dibawahnya
           dalam lingkungan perdilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan
           perdilan militer, lingkungan perdilan tata usaha negara, dan oleh sebuah
           Mahkamah Konstitusi”. Dengan begitu, maka lembaga-lembaga peradilan di
           Indonesia kini berada di bawah Mahkamah Agung RI, tanpa terkecuali Peradilan
           Agama yang semula berada di bawah Kementerian Agama.


           Penyatuatapan Peradilan  Agama ke Mahkamah Agung membawa beberapa
           konsekuensi. Pertama jelas bahwa hal ini bertujuan untuk memisahkan secara
           tegas kekuasaan eksekutif dan yudikatif yang sebelumnya pada beberapa titik
           terlihat kabur. Dengan pemisahan ini, kelembagaan negara diharapkan semakin
           menjadi ruang kondusif bagi penciptaan tatanan yang lebih demokratis dan
           transparan. Kedua, untuk lebih memantapkan posisi lembaga peradilan
           terutama mengenai penguatan sisi hukum formal dan teknis peradilannya.
           Ketiga, sebagaimana ditegaskan Pasal 2 UU No. 3 Tahun 2006, pemisahan ini
           menjadikan  Peradilan Agama sebagai salah satu pemegang kuasa kehakiman





                                                                                                 355
   366   367   368   369   370   371   372   373   374   375   376