Page 385 - SKI jld 3 pengantar menteri Revisi Assalam
P. 385

Buku Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia - Jilid 3







           kepada publik bahwa terorisme adalah haram, terlebih lagi bom bunuh diri yang
           dilakukan di negara bermayoritas penduduk Islam seperti Indonesia.

           Seperti fatwa tentang korupsi,  fatwa terorisme  juga tak mendapat  banyak
           perhatian masyarakat dan media massa. Hal ini mungkin karena masyarakat
           melihat  fatwa  tentang  terorisme  ini  tidak  dikeluarkan  dengan  sepenuh  hati:
           bukan hanya karena respon MUI untuk hal ini yang sangat lambat, tapi juga
           karena  di  tubuh  MUI  sendiri  sekarang  keanggotaannya  didominasi  oleh
           kelompok-kelompok Islam yang memiliki garis ideologi fundamentalis, bahkan
           dalam beberapa kasus beririsan dengan kelompok-kelompok radikal. Lebih
           dari itu, MUI sendiri tidak memiliki program yang dapat dikategorikan sebagai
           agenda lanjutan dari fatwa tersebut.


           Baru di tahun 2010 MUI lantas mengajak kerja sama Badan Nasional                 Tahun 2010 MUI
           Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai follow up dari fatwa 2004 dengan      lantas mengajak kerja
           membuat rentetan program yang bernama Halaqah Penanggulangan Terorisme         sama Badan Nasional
                                                                                           Penanggulangan
           di sejumlah kota dari Jakarta sampai Medan.  Program ini sendiri kemudian       Terorisme (BNPT)
                                                      72
           memperoleh tentangan dan kritik dari beberapa organisasi Islam fundamentalis    sebagai follow up
           semisal HTI, karena dianggapnya hanya menjadi upaya untuk mendistorsi dan        dari fatwa 2004
                                                                                           dengan membuat
           menyudutkan Islam dengan memperalat ulama.                                      rentetan program
                                                       73
                                                                                         yang bernama Halaqah
                                                                                           Penanggulangan
           HTI keberatan dengan kesimpulan banyak kalangan yang menyamaratakan           Terorisme di sejumlah
           terorisme  dengan  visi  beberapa  kelompok  Islam  untuk menegakkan  syariat    kota dari Jakarta
           dan khilafah Islam di Indonesia. Namun demikian, kisruh MUI dan HTI ini tidak    sampai Medan.
           berlangsung berlarut-larut dan menimbulkan rentetan perdebatan sengit.
           Keduanya terlihat saling mengerti satu sama lain, bahkan kemudian kembali
           bekerja sama mengeluarkan produk-produk keputusan yang memang searah
           dengan kepentingan ortodoksi Islam di Indonesia, sebagaimana kemudian
           terlihat  pada  fatwa-fatwa  MUI  terkait  penyesatan  Ahmadiyah,  pengharaman
           sekularisme, liberalisme dan pluralisme, dan lain-lain.


           Meskipun MUI terlihat lebih masuk dan sensitif dengan isu politik di era ini, isu
           fiqih murni dan persoalan sosial kemasyarakatan umum juga tidak lepas dari
           perhatian uama majelis ini. Contoh gamblang dari hal tersebut dapat dilihat pada
           kasus fatwa soal makanan halal dan tentang pemberian sertifikat halal pada
           produk-produk makanan dan kosmetik. Salah satu kasus paling terkenal dan
           banyak diingat masyarakat luas adalah fatwa MUI terhadap produk penyedap
           makanan asal Jepang Ajinomoto. Setelah Ajinomoto memperoleh sertifikat halal
           dari LP-POM MUI, sejak Juni 1999 sampai dengan November 2000 Ajinomoto
           dinyatakan telah menggunakan bacto soytone yang mengandung enzim babi
           untuk mengganti  poly peptoneenzim yang berasal dari kacang-kacangan
           sebagai salah satu bahan pembuatan bumbu penyedap makanan produksinya.
                                                                                   74
           Dari temuan tersebut, pada 16 Desember 2000 MUI mengeluarkan fatwa yang
           menyatakan bahwa produk Ajinomoto dinyatakan haram dan terlarang untuk
           dikonsumsi masyarakat Islam Indonesia.





                                                                                                 369
   380   381   382   383   384   385   386   387   388   389   390