Page 172 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 172
diberitahukan. Proses pembelajaran untuk mengetahui bagaimana harus berbuat akan
semakin terbentuk apabila museum dapat menyediakan fasilitas untuk bereksperimen.
Ketiga, belajar untuk menjadi. Salah satu tujuan pendidikan adalah menjadikan orang
sadar akan dirinya sekaligus membantu seseorang mewujudkan cita-citanya menjadi pribadi
tertentu. Pendidikan harus mampu menjadikan manusia lebih manusiawi. Tujuan pendidikan
ini lebih mengarah pada ranah pembentukan kepribadian. Dalam konteks ini, seseorang
difasilitasi untuk menemukan dirinya sendiri. Orang harus tahu tentang asal usul dirinya
sebagai manusia, hakikat kemanusiaan, dan ke mana manusia harus mengarahkan
kehidupannya. Pada ranah ini, anak didik seharusnya diperkenalkan dengan hal-hal yang
berkaitan dengan ajaran moral, etos, etika, dan tata cara kehidupan yang lebih baik.
Sebagai mitra sekolah, museum dituntut dapat berperan membentuk kepribadian
siswa. Banyak potensi di museum yang dapat mendukung pelaksanaan tugas ini. Museum
dirancang untuk tidak hanya sekedar memamerkan koleksi, tetapi juga menyajikan makna
atau ajaran moral yang terkandung dalam koleksi. Aspek lain dari ranah pendidikan
kepribadian adalah pembentukan jati diri. Museum dapat membantu siswa menemukan siapa
dirinya, terutama dalam konteks lingkungan alam dan sosialnya. Museum dapat menyajikan
pesan-pesan bagaimana masa lalu telah ikut menentukan keadaan masa kini serta bagaimana
lingkungan sosial menyebabkan orang menjadi apa yang ada saat ini. Pesan-pesan ini dapat
diarahkan lebih luas lagi untuk menumbuhkan rasa kebangsaan atau berbudaya. Museum
baharí dapat menumbuhkan kesadaran akan lingkungan alam baharí di tanah air, sifat-sifat
kebaharian bangsa sejak dulu hingga sekarang, dan potensi-potensi yang masih perlu
dikembangkan.
Dengan cara demikian, siswa akan mendapatkan setidaknya tiga kesadaran jati diri,
yaitu tentang keadaan lingkungan alam tempat dia hidup, keadaan dan kemampuan bangsa
yang menjadi bagian sosialnya, dan menumbuhkan minat untuk mengembangkan potensi
tersebut. Melalui tampilan informasi koleksi di museum, siswa terinspirasi atau mendapatkan
gambaran cita-citanya untuk menjadi seseorang dengan jati diri tertentu, seperti menjadi
pengusaha di bidang kebaharian.
Keempat, belajar untuk hidup bersama. Salah satu pilar utama pendidikan adalah
belajar untuk hidup bersama. Ranah pendidikan ini merupakan kebutuhan nyata yang
dirasakan dan museum dianggap salah satu sarana penting untuk menyadarkan tentang hal
tersebut. Dalam konteks globalisasi, aktivitas berwisata, melihat atau melawat ke “negeri
lain” merupakan suatu kebutuhan karena dapat meneguhkan jati diri. Orang yang memahami
atau pernah berkunjung ke tempat lain atau budaya lain, merasa berbeda dengan orang lain.
4

