Page 170 - PROSIDING KONFERENSI NASIONAL SEJARAH X Budaya Bahari Dan Dinamika Kehidupan Bangsa Dalam Persepektif Sejarah Jakarta, 7 – 10 November 2016 Jilid VII
P. 170
ini akan mendiskusikan beberapa pemikiran, gagasan, dan pemanfaatan museum bahari
sebagai sumber pembelajaran sejarah dan budaya bahari bagi siswa.
2. Museum sebagai Sumber Pembelajaran
Jejak masa lampau lazim pula disebut dengan istilah sumber sejarah. Jejak masa
lampau dapat dikelompokkan dalam dua bagian. Kelompok pertama, yaitu jejak material,
yakni jejak dari aktivitas orang yang hidup pada masa lampau yang berwujud. Kelompok
kedua jejak non-material, yakni jejak yang tidak berwujud; tidak dapat dilihat dan diraba,
hanya dapat diketahui karena terdapat dan berlaku dalam masyarakat. Jejak merupakan
sumber informasi penulisan dan pembelajaran sejarah. Oleh karena itu, jejak sejarah
merupakan sumber sejarah yang esensial.
Sumber informasi yang sangat diperlukan oleh orang yang akan melakukan
rekonstruksi tentang masa lampau pada dasarnya terdapat atau dijumpai pada masyarakat itu
sendiri. Namun, karena kesadaran sejarah yang semakin meningkat oleh berbagai pihak,
untuk keperluan praktis diadakan penyimpanan terhadap sumber-sumber informasi tersebut.
Untuk itu, disediakan tempat khusus untuk menyimpan jejak-jejak itu. Di antara tempat
penyimpanan jejak sejarah dan budaya bahari adalah museum. Jejak-jejak masa lampau
kebaharian yang disimpan di museum dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, di
antaranya pendidikan.
Dengan demikian, museum mempunyai peranan penting dalam menunjang kegiatan
pembelajaran sejarah dan budaya. Hal itu disebabkan museum sebagai tempat penyimpanan
jejak sejarah dan budaya bahari yang tugasnya melayani kepentingan masyarakat dalam
memamerkan dan mempublikasikan koleksi yang dimilikinya. Museum juga merupakan
suatu gambaran nyata dunia serta nilai dan aksesibilitas yang dimilikinya menjadikan
museum sebagai media penting yang dapat menguhubungkan pengunjung, khususnya siswa
dengan dunia kebaharian.
1) Pembelajaran di Museum
Peranan museum dalam pembelajaran bagi pengunjung, khususnya kelompok siswa
sangat penting. Museum seharusnya menyusun program-program yang bersifat edukatif bagi
pengunjung. Untuk menyusun program yang bersifat edukatif, pihak museum sebaiknya
memiliki dasar teoretis tentang tahapan yang akan dicapai untuk tujuan pembelajaran.
Misalnya, teori Benyamin Bloom yang menyebutkan tentang tiga ranah atau tahapan dalam
pendidikan. Pertama, ranah kognitif, yaitu untuk mendapatkan pengetahuan. Kedua, ranah
2

