Page 199 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 199

BAHAN MATERI FILM SEJARAH






                 Osamu Seirei merupakan kebijakan Jepang terhadap rakyat Indonesia
                 mempunyai 2 (dua) prioritas yaitu menghapuskan pengaruh-pengaruh
                 barat dan memobilisasikan mereka demi kemenangan Jepang. Pada

                 masa penjajahan Jepang, semua nama berbahasa Belanda diubah dengan
                 nama berbahasa Jepang. Gemeente Surabaya diubah namanya menjadi
                 Surabaya Shi.  Adapun jabatan burgemeester diubah namanya menjadi
                 Shityo. Takahashi Ichiro adalah pejabat Surabaya Shityo, adapun wakilnya

                 (Fukushuchokan) adalah Rajamin Nasution. Selain dibantu oleh seorang
                 wakil, Surabaya Shityo juga dibantu oleh seorang wedana (guntyo) dan
                 lima orang asisten wedana (kutyo). Dengan struktur yang demikian maka
                 terjadi pembagian tugas, yaitu pekerjaan mengenai tugas pemerintah

                 pusat di Kota Surabaya dijalankan atas nama Shityo oleh Wedana beserta
                 stafnya. Sedangkan urusan ekonomi diurus oleh Badan Pengurus Harian
                 yang diketuai oleh Rajamin Nasution. Selain mengubah nama gemeente,
                 pemerintah penjajahan Jepang juga menghapus lembaga perwakilan di Kota

                 Surabaya yang sebelumnya bernama gemeenteraad. Penghapusan lembaga
                 gemeenteraad menunjukkan bahwa pemerintahan kota pada periode
                 penjajahan Jepang dijalankan secara dikatorial militeristik tanpa lembaga
                 pengontrol.

                      Pada bulan Agustus 1942, muncul pengumuman tentang pengaktifan
                 kembali pemerintahan sipil yang setingkat keresidenan yang bernama
                 Surabaya Shu. Wilayah administratif Surabaya Shu dikepalai oleh Shutyo.
                 Munculnya pemerintahan baru, baik Shi maupun Shu telah menghapus

                 tumpang tindih antara pemerintahan tradisional dan pemerintahan Barat
                 sebagaimana terjadi pada masa penjajahan Belanda. Pada masa penjajahan
                 Jepang, semua sistem pemerintahan diubah menjadi sistem pemerintahan
                 khas Jepang yang dikepalai oleh orang-orang Jepang. Kalaupun ada warga

                 Indonesia yang terlibat dalam sistem pemerintahan tersebut, mereka
                 menduduki jabatan yang tidak strategis.



                198
   194   195   196   197   198   199   200   201   202   203   204