Page 203 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 203

BAHAN MATERI FILM SEJARAH






                 dari Jakarta. Dalam berita tersebut menteri menjelaskan tugas Tentara Sekutu
                 di Indonesia, yaitu mengankut orang Jepang yang sudah kalang perang, dan
                 para orang asing yang ditawan pada zaman Jepang. Menteri berpesan agar

                 pemerintah daerah di Surabaya menerima baik dan membantu tugas Tentara
                 Sekutu tersebut. Akan tetapi, masyarakat Surabaya mencurigai kedatangan
                 Inggris sebagai usaha mengembalikan kolonialisme Belanda di Indonesia.
                 Kasus kolonel P.J.G Huijer, perwira Tentara Sekutu berkebangsaan Belanda,

                 menjadi salah satu alasannya kecurigaan itu. Kolonel P.J.G Huijer yang
                 datang di Surabaya pertama kali pada tanggal 23 September sebagai utusan
                 Laksamana Pertama Patterson, Pimpinan  Angkatan Laut Sekutu di  Asia
                 Tenggara, ternyata membawa misi rahasia dari pimpinan  Angkatan Laut

                 Kerajaan  Belanda.  Huijer  yang  bersikap  dan  bertindak  terang-terangan
                 menentang revolusi Indonesia akhirnya ditangkap dan ditawan di Kalisosok
                 oleh aparat Keamanan Indonesia.
                      Pada tanggal 26 Oktober 1945, mulai pukul 09.00 hingga pukul

                 12.30 berlangsung pertemuan antara wakil–wakil pemerintah Indonesia
                 di Surabaya yang terdiri dari Residen Sudirman ketua KNI, Doel Arnowo,
                 Walikota Rajimin Nasution, serta Mohammad, dengan pihak sekutu yang
                 terdiri dari Brigadier Jendral A.W.S. Mallaby dan para stafnya. Pertemuan

                 tersebut, pasukan Inggris secara berkelompok diperbolehkan untuk
                 menggunakan bangunan yang ada di dalam kota. Sebagai contoh, Inggris
                 menduduki Pangkalan Udara Morokrembangan, Pelabuhan Tanjung Perak,
                 Kantor Pos Besar, Gedung Bank Internasional, dan objek vital lainnya.

                      Pada tanggal 27 Oktober 1945, pukul 11.00 pesawat terbang Inggris
                 menyebarkan pamflet-pamflet. Pamflet-pamflet itu berisi perintah agar
                 rakyat Surabaya menyerahkan senjata yang dirampasnya dari tangan
                 Jepang. Pemerintah Republik Indonesia berusaha menanyakan hal itu

                 kepada Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, tetapi ia mengakui mengetahui
                 tentang pamflet tersebut.
                      Tindakan provokatif tersebut terus berlanjut keesokan harinya yaitu

                202
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208