Page 207 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 207

BAHAN MATERI FILM SEJARAH






                      Dari berbagai kesaksian mantan perwira Inggris di tempat kejadian,
                 ternyata yang memulai tembakan adalah pihak Inggris, sesuai kesaksian
                 Mayor Gopal tahun 1974. Penyebab tewasnya Mallaby sendiri masih menjadi

                 misteri. Ada yang mengatakan tertusuk bayonet dan bambu runcing pemuda,
                 namun berdasarkan surat dari Kapten Smith kepada Parrot tahun 1973-
                 1974, kemungkinan besar Mallaby terbunuh karena ledakan granat yang
                 dilempar pengawalnya sendiri. Kabar terbunuhnya Mallaby diterima oleh

                 Letnan Jenderal Christison panglima AFNEI sehingga ia menyatakan pihak
                 Indonesia telah melanggar genjatan senjata karena itu Inggris memperoleh
                 alasan untuk memenuhi perjanjiannya dengan Belanda yaitu membersihkan
                 kekuatan bersenjata. Pada tanggal 31 Oktober 1945, Jenderal Christison,

                 memperingatkan untuk menyerah, tetapi rakyat Surabaya mengumumkan
                 bahawa kematian Mallaby merupakan suatu kecelakaan.
                      Setelah mendapat penolakan, Divisi 5 (lima) Inggris yang berkekuatan
                 24.000 tentara di bawah komando Mayjend R. C. Mansergh mendarat secara

                 diam-diam di Surabaya. Selain diperkuat oleh sisa Brigade 49, masih  ditambah
                 1500 marinir, di bawah komando Rear Admiral Sir W. R. Patterson yang
                 memimpin beberapa kapal perang. Letjen Sir Philip Christison, melengkapi
                 pasukan Inggris dengan pesawat tempur Thunderbolt, Mosquito, dan tank

                 kelas Sherman, yang merupakan persenjataan tercanggih saat itu.
                      Kemudian, pada tanggal 7 November, Mansergh menulis surat
                 kepada gubernur Soeryo, yang isinya menuduh gubernur tidak mampu
                 menguasai keadaan, akibatnya seluruh kota dikuasai oleh perampok.

                 Mereka dianggap menghalangi tugas sekutu, untuk itu Sekutu mengancam
                 akan menduduki kota Surabaya. Serta memanggil Gubernur Soeryo untuk
                 menghadap. Dalam surat jawabannya tanggal 9 November, Gubernur
                 membantah semua tuduhan Mansergh. Gubernur Soeryo mengutus

                 Residen Sudirman dan Roeslan  Abdulgani untuk menyampaikan surat
                 balasan tersebut. Pada pukul  14:00  Mansergh  menyampaikan ultimatum



                206
   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212