Page 433 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 433

BAHAN MATERI FILM SEJARAH






                 kehadiran pemuda-pemuda Ambon yang menjalankan pendidikan di pulau
                 Jawa, seperti di kota Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Semarang, dan Surabaya
                 serta di pulau Sulawesi seperti di kota Makassar dan Tondano.
                      Pemuda-pemuda Ambon  yang  menempuh  pendidikan  baik  di  Jawa
                 maupun  Sulawesi  bahkan  ada  yang  melanjutkan  pendidikan  mereka  di

                 bidang kedokteran dan hukum di negeri Belanda. Kemudian setelah selesai
                 menempuh studi  di Belanda, mereka kembali ke Jawa ataupun ke Ambon.
                 Pemuda-pemuda  Ambon yang menempuh pendidikan baik di Jawa,

                 Sulawesi maupun di Belanda, mereka adalah Mr. Johanes Latuharhary, Ir.
                 Martinus Putuhena, Dr. Jacob Bernardus Sitanala, Dr. Melkianus Haulussy,
                 Abdul Muthalib Sangaji, Wellem Johanes Latumenten, Herman Pieters, F.M.
                 Pupella, Dr. J. Kayudoe, Prof. Dr. Jonas Latumenten, Mohammad Padang
                 dan Sultan Mudasfar Syah.

                      Pertemuan dengan berbagai pemuda selama menempuh pendidikan
                 membuat pemuda-pemuda  Ambon secara perlahan mulai melibatkan
                 diri  ke  dalam  kegiatan  politik  yang  didasari  atas  kesadaran  diri  sendiri

                 dan sukarela. Keterlibatan pemuda-pemuda  Ambon tersebut di dalam
                 kegiatan politik awalnya hanya bertujuan untuk mencapai kemajuan serta
                 kemakmuran penduduk  Ambon, seperti yang dilakukan oleh salah satu
                 organisasi yang bernama Sarekat Ambon di Semarang.
                      Sarekat  Ambon sendiri didirikan oleh  Aleksander Yacop Patty

                 pada  tanggal  9  Mei  1920. Melalui  Sarekat Ambon  yang  melibatkan  kaum
                 intelektual inilah, orang Maluku khususnya Ambon untuk pertama kalinya
                 terlibat di dalam organisasi politik dan mulai memahami pentingnya

                 arti sebuah nasionalisme. Ide-ide tentang nasionalisme Indonesia serta
                 propaganda anti-Belanda terus disebarluaskan oleh Patty dan kawan-
                 kawan kepada seluruh pemuda dan masyarakat Maluku melalui Sarekat
                 Ambon yang semakin hari semakin berkembang dan mulai memiliki cabang
                 di kota-kota lain.




                432
   428   429   430   431   432   433   434   435   436   437   438