Page 434 - 02 BUKU BAHAN MATERI FILM SEJARAH 270118
P. 434

BERITA PROKLAMASI KEMERDEKAAN DI INDONESIA






                         Penyebaran gagasan nasionalisme dan propaganda anti Belanda
                   itu mendapat sambutan baik dari pemuda dan organisasi lain yang
                   ada di  Ambon. Namun karena dianggap membahayakan, keberadaan
                   Sarekat Ambon ditentang oleh raja-raja setempat di Ambon. Pertentangan
                   keberadaan Sarekat  Ambon oleh raja-raja  Ambon tersebut merupakan

                   perintah yang diberikan oleh pimpinan Residen Ambon pada mereka dengan
                   tujuan untuk menghilangkan pengaruh Sarekat Ambon di wilayah Ambon.
                   Kemudian  Aleksander Yacop Patty pun akhirnya berhasil ditangkap dan

                   diadili. Untuk selanjutnya ia diasingkan ke Boven Digul, Irian Barat.
                         Namun perjuangan Sarekat Ambon tidak berhenti begitu saja. Setelah
                   pemimpin mereka ditangkap dan diasingkan, perjuangan Aleksander Patty
                   dilanjutkan oleh Mr. Johanes Latuharhary yang mana ia membawa Sarekat
                   Ambon dan organisasi lainnya bersatu untuk mencapai tujuan Indonesia

                   merdeka. Sarekat  Ambon terus bertahan meskipun banyak mendapat
                   tekanan dan pertentangan dari berbagai macam pihak.



                   b. Ambon Masa Pendudukan Jepang
                         Tahun 1942 adalah tahun dimana untuk pertama kalinya pasukan
                   Jepang mendarat di  Ambon. Tak lama setelah itu, Jepang langsung
                   menjadikan  Ambon sebagai bagian dari wilayah administrasi kelautan
                   dengan pusat pemerintahannya di Makassar. Wilayah Ambon sendiri pada

                   masa itu berada di bawah kekuasaan Seram Minseifu yang mana Maluku
                   sebagai residen dengan pusat pemerintahan administrasi di  Ambon.
                   Untuk mencapai tujuan memenangkan perang melawan sekutu, Jepang

                   memanfaatkan anggota Sarekat  Ambon sebagai alat untuk memperoleh
                   dukungan dari masyarakat lokal. Hal tersebut dilakukan Jepang dengan
                   mengangkat pemimpin Sarekat Ambon E.U. Pupella yang telah memimpin
                   Sarekat Ambon sejak 1938 untuk menjadi bunkencho.






                                                                                       433
   429   430   431   432   433   434   435   436   437   438   439