Page 75 - 04 Panggung Seumur Jagung
P. 75

Kemudian, terdapat contoh lainnya
                yang berupa pelarian ialah puisi karya
                Bahrun Rangkuti, Palawija menampilkan
                unsur propaganda  dengan teknik
                pelabelan dan kesan negatif terhadap        “… Dengan sendirinya politik
                individu, kelompok bangsa, cita-cita,       memecah belah, mencerai-beraikan
                keyakinan, atau penolakan. Label            golongan bangsa di tanah air kita ini
                buruk tersebut berupa tipu muslihat,        pun terkikis dan terhapus pula… “.
                kekuasaan imperialis, mementingkan diri
                sendiri, dan kelicikan politik Belanda.


                Seperti pada cuplikan berikut:              Sebaliknya, dalam novel ini pengarang
                                                            menampilkan penanaman kesan baik
                                                            terhadap bangsa Jepang. Pengarang
                “Sekarang saudara-saudara,                  berusaha membangkitkan perasaan
                kekuasaan imperialis itu                    cinta, kagum, dan keinginan terlibat
                sudah habis….”                              langsung dalam mendukung gerakan
                                                            Asia Timur Raya. Gagasan yang berupa
                                                            doktrin dalam Palawija ditampilkan
                Label buruk melalui frasa ‘kekuasaan        melalui bahasa propaganda dan
                imperialis’. Hal itu dimaksudkan untuk      disajikan sebagaimana ciri sastra poluler
         64
                menggiring opini pembaca bahwa              yang mudah dinikmati masyarakat.
                Belanda bangsa yang jahat dan
           Literasi Nasional  membuat sengsara bangsa Indonesia.   Beberapa cerpen yang lahir pada masa
                                                            pendudukan Jepang di Indonesia
                                                            (1942-1945) yang termuat dalam
                Melalui novel tersebut, juga ditampilkan
                bahwa kedatangan Jepang sebagai
                                                            “Ajarannya” (1942) karya Nidroen,
                penyelamat bangsa Indonesia. Dengan         majalah Pandji Poestaka, antara lain,
                kedatangan bagsa Jepang ke Indonesia,       “Gegap Gempita di Medan Perang
                kekuasaan bangsa Belanda telah berakhir,    Timur” (1942) karya Matu Mona, “Isteri
                                                            Tabib” (1942) karya Teha, “Karena
                                                            Pertolongan Wak Mualim” (1942) karya
                                                            Z. Oesman, “Menyinggung Perasaan”
                                                            (1942) karya Matu Mona, “Permintaan
                                                            Terakhir” (1942) karya Usmar Ismail,
                                                            “Ujian yang Berat” (1942)  karya
                                                            Asmara Bangun, “Membela Kewajiban”
                                                            (1942) karya Ajirabas, “Hidup Bertetangga”
                                                            (1944) karya Ramalia Dahlan, “Putri
                                                            Pahlawan Indonesia“ (1945) dan “Tengku
                                                            Mat Amin” (1945) karya Nur Sutan Iskandar.
   70   71   72   73   74   75   76   77   78   79   80