Page 181 - Menabung_Ebook
P. 181

Beberapa bulan  kemudian,  setelah dirasa siap  untuk mendirikan suatu bank
               negara, melalui Perpu No. 2 Tahun 1946 tentang pembentukan Bank Negara Indonesia,
               pemerintah mendirikan Bank Negara Indonesia (BNI) sebagai bank sentral/sirkulasi yang
               pertama milik RI. Peresmian bank negara ini dilaksanakan di Yogyakarta pada 17 Agustus
               1946 yang dilakukan langsung oleh Wakil Presiden RI Mohammad Hatta. Di kota tersebut
               BNI untuk pertama kali menggunakan gedung bekas De Javasche Bank yang pada saat itu
               belum beroperasi kembali. Lalu bagaimana dengan nasib yayasan Pusat Bank Indonesia?
               Rupanya yayasan itu telah dileburkan ke dalam BNI, yayasan itulah yang sesungguhnya
               telah menjelma menjadi BNI. Hal itu terungkap dalam kawat yang dikirimkan BNI Yogya
               pada 19 Agustus 1946 kepada Gubernur, yakni sebagai berikut.                                       Menabung Membangun Bangsa


                   “Diberitahoekan  bahwa  Poesat  Bank  Indonesia  mendjelma  mendjadi  Bank
                   Negara Indonesia pada tanggal 17 agoestoes j.l. dan segala oeroesan Poesat
                   Bank dilandjoetkan oleh Bank Negara titik nomor kawat Bank Negara dimoelai
                   dengan nomor satoe titik BNI Jogja.”

                   Jika di dalam wilayah RI didirikan BNI sebagai bank sentral/sirkulasi, di dalam wilayah
               yang  dikuasai  oleh  NICA,  De  Javasche  Bank  juga  mulai  beroperasi  kembali.  Dengan
               demikian, pada periode perang ini seiring dengan adanya dua pemerintahan di wilayah
               Indonesia, juga terdapat dua sistem perbankan yang bekerja dalam dua wilayah kerja yang
               berbeda.

                   Pada 10 Oktober 1945 NICA telah memperoleh akses ke kantor-kantor pusat bank
               Jepang di Jakarta. Ternyata, mereka mendapati kondisi perbankan setelah pendudukan
               Jepang tidak separah seperti yang dibayangkan sebelumnya. Secara umum, bank-bank
               Belanda  menyatakan  bahwa  kerugian  yang  diderita  selama  pendudukan  Jepang  tidak
               membuat mereka lumpuh.  Oleh  karena itu,  mereka merasa  mampu  untuk kembali
               beroperasi  dan  menjalankan  fungsinya  seperti  sedia  kala.  Selanjutnya,  pada  2  Januari
               1946  Gubernur  Jenderal  secara  resmi  mengizinkan  De  Javasche  Bank  dan  bank-bank
               Belanda lainnya untuk mulai membuka kantor-kantornya seiring dengan perkembangan
               wilayah yang telah diduduki oleh Belanda. Dengan demikian, keputusan tersebut telah
               mencabut  keputusan  Pemerintah  Hindia  Belanda  pada  tahun  1944 tentang larangan
               kegiatan perbankan di Hindia Belanda.


                   Segera  setelah  itu,  semua  bank  besar  milik  Belanda  seperti  Nedelandsch  Handel
               Maatschappij (NHM), Nederlandsch Indische Handels Bank (NIHB), dan Escomptobank                    171
               beroperasi kembali seperti sebelumnya. Selain bank-bank Belanda tersebut bank milik
               Inggris juga diberi kesempatan untuk beroperasi kembali, yaitu The Chartered Bank of
               India, Australia and China dan Hong Kong and Shanghai Banking Corporation (HSBC). Bank-
               bank asing lainnya yang juga turut beroperasi kembali adalah Overseas Chinese Banking
               Corporation dan Bank of China. Selain bank-bank tersebut terdapat beberapa bank lokal
               yang beroperasi di wilayah pendudukan Belanda, yaitu NV Bank Vereeniging Oei Tiong
               Ham (1906) dibuka kembali di Semarang, Bank Timur NV (1949) di Semarang, Chung Hwa
               Shangieh Maatschappij di Medan, dan NV Batavia Bank (1918) dibuka kembali di Jakarta
               dan diubah menjadi Bank Jakarta dan Bank Boemi IMA.
   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186