Page 182 - Menabung_Ebook
P. 182

Kondisi Ekonomi dan Keuangan

                           Selama  masa tahun  1945—1949  perkembangan  perekonomian  Indonesia  sangat
                           menyedihkan. Semua indikator makroekonomi dengan tiada kecualinya jelas menunjukkan
                           betapa dalamnya perekonomian telah jatuh. Hal itu ditandai dengan turunnya produksi
                           secara hebat karena hancurnya sebagian besar alat produksi, defisit neraca perdagangan
                           yang besar selama beberapa tahun, defisit anggaran belanja pemerintah, baik Pemerintah
                           Republik Indonesia, maupun pemerintah NICA.

                              Keduanya mempunyai pengeluaran yang sangat besar dalam bidang militer karena
                           peperangan  yang terus terjadi  antara keduanya.  Situasi  moneter  makin  gawat karena
                           terus bertambahnya volume uang yang sangat meningkatkan permintaan barang tanpa
                           diimbangi dengan perluasan secara proporsional pada sisi penawaran. Akibatnya, inflasi
                           makin parah. Keadaan ekonomi dan moneter yang benar-benar sangat memprihatinkan
                           terdapat di daerah yang diduduki NICA dan yang berada di bawah kekuasaan pemerintah
                           Republik Indonesia (Oey Beng To, 1991:1—44).

                              Selama periode 1945—1949, baik Pemerintah Republik Indonesia maupun NICA tidak
      Menabung Pada Masa Kemerdekaan  politis antara kedua pemerintah dan bentrokan peperangan antara kedua kekuatan militer
                           dapat menyusun anggaran belanja masing-masing dengan baik. Dalam masa ketegangan

                           meningkat, dapatlah dimengerti bahwa administrasi keuangan negara dengan terpaksa
                           ditelantarkan.  Namun, penyusunan  dilakukan sesudah lewatnya tahun-tahun  yang
                           bersangkutan. Anggaran belanja tahun 1947, 1948, dan 1949 berhasil disusun oleh NICA.
                           Dalam rentang waktu tersebut, NICA telah melakukan deficit financing untuk membiayai
                           pengeluarannya dengan jalan mengadakan pinjaman dari De Javasche Bank di samping
                           menciptakan uang kertas Pemerintah, dan penempatan kertas perbendaharaan meskipun
                           kecil jumlahnya.

                              Dari tahun 1945 hingga 1949 utang lancar NICA bertambah, yaitu meningkat dari
                           347 juta gulden pada tahun 1945 menjadi 2.859 juta gulden pada tahun 1949. Nantinya
                           utang lancar dalam negeri sebesar 2.859 juta gulden itulah yang dialihkan dari Pemerintah
                           Hindia  Belanda  ke  Pemerintah Indonesia  dalam perundingan Konferensi Meja  Bundar

       172                 (KMB) tahun 1949 (Oey Beng To, 1991:24).
                              Cara pembiayaan yang ditempuh NICA tersebut agak berbeda dengan pembiayaan
                           pada  masa sebelum  perang.  Sebelum  terjadinya Perang Dunia  II, kedua  pembiayaan
                           defisit anggaran belanja, terutama, ditampung di Negeri Belanda, dalam bentuk kredit
                           jangka pendek dari  Pemerintah  Belanda, yang pada  waktunya dikonsolidasikan  dalam
                           utang jangka panjang. Tidak demikian halnya sesudah Perang Dunia II, sebagian besar
                           defisit anggaran belanja dibiayai dengan utang dari De Javasche Bank. Dari jumlah utang
                           lancar itu De Javasche Bank adalah pemberi utang terbanyak, yaitu sebesar 1. 352 juta
                           gulden pada tahun 1949.
   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187