Page 183 - Menabung_Ebook
P. 183
Kebijakan di bidang keuangan negara di daerah yang dikuasai Republik Indonesia
selama 1945—1949 tidak banyak berbeda dengan kebijakan yang ditempuh di daerah
pendudukan Belanda. Pemerintah Republik Indonesia juga melakukan deficit financing
dengan mencetak ORI. Seiring dengan meningkatnya pengeluaran perang, pencetakan
ORI juga terus meningkat. Pada akhir tahun 1949 jumlah ORI dan ORIDA yang dikeluarkan
oleh pemerintah sebesar Rp6 miliar (Sikap, 12 Maret 1949). Dengan demikian, deficit
financing sebagai cara termudah untuk membiayai peperangan telah dijalankan oleh
kedua pemerintahan, baik NICA maupun Pemerintah Republik Indonesia. Menabung Membangun Bangsa
Kebijakan demikian telah menyebabkan volume uang beredar meluap sampai tingkat
yang tinggi. Keadaan moneter menunjukkan perkembangan yang makin lama makin
mengkhawatirkan. Volume uang beredar telah bertambah sampai tingkat yang sangat
tinggi. Pada akhir tahun 1949 di daerah yang dikuasai oleh Republik, volume uang beredar
berjumlah Rp6 miliar, sedangkan di daerah pendudukan Belanda berjumlah Rp3,7 miliar.
Kalau jumlah tersebut dibandingkan dengan volume uang beredar sebelum pecah
Perang Dunia Kedua, angka menunjukkan sejumlah 420 juta gulden pada bulan Maret
1938. Peredaran demikian besarnya pada tahun 1949 sudah jelas mencerminkan
perkembangan jumlah uang beredar yang cukup tinggi di kedua daerah tersebut, yakni
seluruh wilayah Hindia Belanda, atau wilayah RI dan NICA. Akibatnya, keadaan ekonomi
sangat kacau, hiperinflasi menimpa perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Pada akhir pendudukan Jepang dan masa awal berdirinya RI, peredaran uang
pendudukan Jepang tak bisa dikendalikan. Salah satu sebabnya adalah karena negara
RI pada saat itu belum mempunyai mata uang yang dapat menggantikan mata uang
pendudukan Jepang. Oleh karena itu, pemerintah tidak dapat menyatakan bahwa mata
uang pendudukan Jepang tidak berlaku lagi di wilayah Indonesia. Pada saat itu pemerintah
Indonesia memberlakukan beberapa mata uang sebagai tanda pembayaran yang sah di
wilayah Indonesia, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia
Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Bangsa Indonesia baru mempunyai uangnya
sendiri (untuk menggantikan uang Jepang) pada bulan Oktober 1946 mengeluarkan uang
kertas baru dengan nama Oeang Republik Indonesia atau yang disingkat ORI.
Sementara itu, NICA yang datang kembali ke wilayah Indonesia justru telah siap 173
dengan mata uangnya sendiri. Sejak bulan Desember 1942 dalam pengungsian di London,
pemerintahan sipil Hindia Belanda telah mempersiapkan pencetakan uang Nederlandsch
Indie dalam 9 pecahan, mulai 50 sen sampai 100 gulden (meskipun pencetakan uang 5
Gulden ke atas oleh pemerintah, sebenarnya bertentangan dengan bank wet 1922 yang
memberikan hak tunggal pencetakan uang kertas 5 gulden ke atas). Uang kertas itulah
yang kemudian terkenal dengan nama “uang NICA” yang dicetak oleh American Bank Note
Company.

