Page 185 - Menabung_Ebook
P. 185

Dengan  demikian, pada  periode  ini  terdapat dua  wilayah peredaran
                           uang  yang berbeda, yaitu  wilayah  yang dikuasai  oleh  NICA  telah  beredar
                           uang kertas De Javasche Bank, uang kertas, dan logam Pemerintah Hindia
                           Belanda, juga uang NICA. Sementara itu, di wilayah yang dikuasai oleh RI
                           terdapat pula mata uang ORI-ORIDA yang dikeluarkan oleh pemerintah, baik
                           pusat maupun daerah. Terdapatnya berbagai jenis mata uang yang beredar
                           dalam masyarakat yang berbeda-beda nilai tukarnya menyebabkan situasi
                           moneter  menjadi  sangat ruwet dan  membingungkan.  Akibat jumlah  uang                Menabung Membangun Bangsa
                           beredar yang terus bertambah, kedua wilayah pemerintahan yang berbeda
                           itu masing-masing mengalami inflasi.

                              Di daerah pendudukan Belanda merajalelanya inflasi sedikit banyak dapat
                           dikurangi  dengan  adanya distribusi  barang-barang.  Walaupun  demikian,
                           harga barang-barang yang ditempatkan di bawah “pengawasan” masih jauh
                           lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga sebelum perang, yaitu kurang
                           lebih 650%. Di pasar bebas Jakarta tingkat harga barang-barang makanan
                           pada Oktober 1947 diperkirakan 200% dari tingkat harga barang-barang yang
                           diawasi, sedangkan barang-barang lain harga bebasnya ditaksir antara 300—
                           500% dari harga yang diawasi.

                              Sementara itu, kebijakan  ekonomi  moneter di  daerah  yang dikuasai
                           Republik  Indonesia terpaksa bersifat pasif,  yaitu  memberikan akomodasi
                           kepada keperluan politik dan militer serta mengusahakan jaminan minimal
                           bagi kehidupan rakyat sehari-hari. Pada saat itu tidak ada kemungkinan bagi
                           pemerintah RI untuk mendapatkan pemasukan dari sektor perdagangan,
                           mengingat blokade yang dilakukan oleh NICA terhadap RI. Tindakan blokade
                           ini dimulai pada bulan November 1945 dengan cara menutup semua pintu
                           keluar-masuk perdagangan  ke wilayah  yang dikuasai  RI. Dengan  cara itu,
                           Belanda berharap negara Indonesia akan ambruk dengan sendirinya karena
                           hantaman ekonomi (Marwati, 1993: 173—174).
                              Rupanya dalam kondisi revolusi dan perjuangan, tidaklah mudah bagi
                           pemerintahan yang baru lahir untuk menempuh suatu kebijakan moneter                    175
                           yang secara sistematis dan menyeluruh diarahkan kepada stabilitas sambil
                           meningkatkan produksi.  Dalam UUD  1945  Pasal  23 dan  33 telah diatur
                           kebijakan ekonomi dan moneter, tetapi itu hanyalah peraturan yang bersifat
                           ideal. Situasi perang kemerdekaan menyebabkan sulitnya Pemerintah untuk
                           melaksanakan yang dikehendaki oleh UUD 1945.
   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190