Page 270 - Menabung_Ebook
P. 270

kedua sehingga kedua-duanya memiliki potensi untuk menghasilkan surplus
                           pangan dengan skala yang berbeda.

                              Ketika manusia memasuki tahap kehidupan bernegara, praktik pertanian
                           melibatkan lahan yang lebih luas dengan intervensi negara sebagai lembaga
                           control. Itu dilakukan untuk mengorganisasikan praktik pertanian lintas desa
                           yang sebelumnya bersifat otonom. Melalui kontrol negara dalam membangun
                           sarana irigasi, potensi hasil produksi sawah  meningkat yang memungkinkan
                           kerajaan-kerajaan kuno membangun monumen-monumen besar. Meskipun
                           demikian, musibah  bencana berupa hama tanaman  atau bahkan gunung
                           meletus yang terjadi sewaktu-waktu dapat menghancurkan seluruh investasi
                           dan produksi pangan utama. Untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan itu
                           masyarakat menciptakan tempat-tempat untuk menyimpan hasil panen, baik
                           untuk mengantisipasi agar tidak kekurangan bahan pangan di masa depan,
                           maupun untuk menyimpan bibit untuk musim tanam berikutnya. Sebelum
                           dimasukkan ke dalam lumbung pun, bahan pangan itu, terutama padi, sudah
                           diawetkan lebih  dahulu  melalui  pengawetan dengan  pemanfaatan panas
                           matahari.

                              Upaya menciptakan  sarana  untuk penyimpanan  lain  yang menyertai
                           tradisi bertani adalah dengan membuat wadah-wadah dari tanah liat yang
                           dikenal dengan gerabah. Jenis ciptaan ini termasuk karya utama yang dibuat
                           secara  efisien  karena  bahannya  mudah  diperoleh  dan  manfaatnya  sangat
                           luas. Wadah-wadah berupa peralatan sehari-hari itu tidak hanya digunakan
                           sebagai  tempat menyimpan  berbagai  bahan  pangan, tetapi  juga sebagai
                           sarana memasak, memindahkan barang, menjadi bekal kubur, dan menjadi
       Simpulan            wadah tanaman hias.

                              Tahapan  penting  lain  yang  menadai  pencapaian  dalam  budaya
                           menabung  adalah  ketika  manusia  memasuki  kehidupan  bernegara  yang
                           ditandai oleh berkembangnya kota-kota yang diwarnai aktivitas perdagangan
                           yang menonjol. Aktivitas itu mendapatkan penguatan melalui sistem ritual
                           keagamaan  yang diciptakan untuk melindungi  para pedagang.  Transaksi
                           perdagangan  meningkat  efisiensi  dengan  digunakannya  mata  uang  yang
       260                 dijadikan  sebagai  media  untuk tukar-menukar.  Mata uang  itu  menjadi

                           bertambah  penting  peranannya  ketika  diperlakukan  sebagai  wujud  atau
                           simbol kekayaan itu sendiri. Melalui kesepakatan nilai intrinsik, mata uang
                           bisa lebih tinggi daripada barang yang lain yang dipertukarkan dalam transaksi
                           dagang. Sejak saat itulah, tradisi menabung, dalam arti khusus, mulai dikenal
                           terutama menabung dalam arti menyimpan mata uang di dalam wadah yang
                           kini dikenal dengan nama celengan. Menabung di dalam celengan ini mula-
                           mula dikenal pada masa Majapahit sekitar di abad ke-14 dan ke-15 Masehi.
   265   266   267   268   269   270   271   272   273   274   275