Page 273 - Menabung_Ebook
P. 273
Sebaliknya, Jepang sangat gencar mempropagandakan menabung di
bank. Beberapa lembaga keuangan yang ada, seperti Bank Chokin Kyoku dan
kantor pos dijadikan tempat penghimpunan dana masyarakat. Propaganda
menabung yang dilancarkan melalui media surat kabar, majalah, seni, radio
dan film membuahkan hasil. Masyarakat makin mengenal bank dan jumlah
penabungnya meningkat hingga ke desa-desa. Penabungnya tidak terbatas
pada pengusaha dan pejabat, tetapi hingga pedagang, petani, buruh, dan
tukang becak.
Dalam setiap periode sejarah yang kita paparkan dalam buku ini dapat
kita lihat suatu benang merah tradisi menabung masyarakat Indonesia yang Menabung Membangun Bangsa
beriringan dengan usaha pemerintah untuk memanfaatkan tradisi tersebut
demi kepentingan pembangunan atau agenda lainnya yang terkait dengan
kesejahteraan nasional. Potensi ekonomi dari tradisi menabung masyarakat
sudah diidentifikasi oleh pemerintah, sejak zaman kolonial Belanda, zaman
pendudukan Jepang, hingga pemerintahan masa Indonesia merdeka yang
terus berkesinambungan hingga saat ini. Upaya harmonisasi kebiasaan
menabung secara mandiri melalui media celengan dan yang serupa dengan
sistem tabungan modern diselenggarakan oleh perbankan terus dapat kita
cermati sepanjang periode sejarah dari masa ke masa.
Usaha pemerintah yang paling besar dalam menggerakkan masyarakat
untuk menabung secara nasional terjadi pada saat pemerintahan Orde Baru
pada periode tahun 1970-an. Pada masa itu pemerintah mulai menyadari
bahwa potensi dana yang dimiliki masyarakat dapat dihimpun dalam
tabungan yang kemudian bisa dimanfaatkan untuk pembiayaan proyek
pembangunan. Tabanas dan Taska yang diluncurkan pada 20 Agustus 1971
adalah salah satu produk tabungan paling monumental yang pernah ada di
Indonesia dan bertahan kurang lebih dua dekade, lebih sari separuh masa
pemerintahan Orde Baru.
Pada masa itu terlihat dengan jelas bagaimana upaya pemerintah
menggerakkan semua lapisan masyarakat untuk menabung dalam Tabanas
dan Taska, suatu pos keuangan yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah
secara langsung. Hampir semua otoritas pemerintah di pusat dan birokrasi
daerah turun tangan untuk mengkampanyekan kegiatan menabung dalam 263
bank, bukan dalam bentuk celengan atau simpanan lainnya di rumah secara
mandiri. Pada masa itu pemerintahan Orde Baru memiliki jargon bahwa
menabung memiliki fungsi mendidik masyarakat agar ikut mendukung
pembangunan, percaya terhadap ketangguhan ekonomi negara, dan
memerangi budaya konsumerisme, terutama kegandrungan terhadap
barang-barang impor yang bersifat kebutuhan sekunder atau tersier.

