Page 274 - Menabung_Ebook
P. 274

Terkait  dengan kepercayaan terhadap ketangguhan  ekonomi  negara,
                           pada masa pemerintahan sebelumnya terdapat peristiwa ekonomi politik yang
                           berdampak merugikan bagi  masyarakat penabung  di  Indonesia.  Terutama
                           dalam Kebijakan Sanering 1959, pembekuan sebagian simpanan tabungan
                           yang dimiliki masyarakat daalam bank, dan pemangkasan nilai mata uang
                           Rupiah hingga turun 90 persen dari nilai sebelumnya, telah menimbulkan
                           trauma yang mendalam  bagi  masyarakat untuk menyimpan  aset mereka
                           dalam bentuk uang. Pada titik ini aset yang bersifat benda non-uang seperti
                           logam mulia, tanah dan bangunan, bahan-bahan pokok, dan benda-benda
                           mewah lainnya, menjadi pilihan masyarakat untuk menyimpan nilai aset yang
                           mereka miliki. Pemerintah Orde Baru, memulihkan trauma tersebut melalui
                           stabilitas ekonomi, yang antara lain terwujud dalam jaminan uang tabungan
                           bank  yang dimiliki  oleh  masyarakat.  Dalam  Tabanas  dan  Taska dinyatakan
                           bahwa uang tabungan itu dijamin oleh Bank Indonesia.

                              Pada  masa  akhir  Orde  Baru,  ketika  mulai  terbukti  bahwa  bangunan
                           ekonomi  Indonesia ternyata berdiri  di  atas fondasi  ekonomi  yang rapuh,
                           masyarakat Indonesia  telah  masuk dalam  kancah  sistem menabung  yang
                           beragam.  Menabung  di  bank  menjadi  salah  satu  komoditas perbankan
                           nasional untuk menggerakkan fungsi intermediasi di tengah persaingan yang
                           sangat ketat. Upaya membangkitkan “dana di bawah bantal” menjadi urusan
                           persaingan  antar bank  dengan  berbagai  produk  tabungan  berhadiah  yang
                           mereka tawarkan kepada masyarakat.

                              Fenomena menabung dengan iming-iming  hadiah  semacam  ini,  terus
                           berlangsung  hingga sekarang, dan  nilai  menabung  semakin bergeser  dari
                           fungsi dan nilainya yang semula. Menabung yang seharusnya memberikan
       Simpulan            ajaran kesabaran, menahan diri untuk tidak berlaku konsumtif (nilai hemat
                           dan disiplin), menyiapkan bekal untuk masa depan mulai dari masa sekarang
                           (perencanaan), dan kesadaran untuk berinvestasi pada nilai baik, perlahan
                           mulai berganti.

                              Program tabungan berhadiah uang berjumlah besar atau barang-barang
                           mewah yang ditawarkan bank-bank pada saat ini adalah pereduksian makna
                           menabung yang dilakukan oleh dunia perbankan. Menabung yang semula
       264                 memiliki  spiritual  dan  sosial  berubah  hanya bernilai  ekonomi  semata.

                           Menabung di bank pada saat ini, menmiliki paradoks karena bertujuan hemat
                           pada satu sisi dan bersifat konsumtif pada sisi lain. Selain itu, hadiah mewah
                           dan fantastis yang menggiurkan bagi penabung mendorong orang berkhayal
                           memperoleh sesuatu dalam waktu cepat dan dengan cara mudah. Padahal
                           menabung  merupakan  upaya untuk mencapai  sesuatu  lewat proses yang
                           membutuhkan waktu dan kesabaran.

                              Kondisi  tabung-menabung  yang ditawarkan oleh perbankan dengan
                           sejumlah paradoks yang terdapat di dalamnya, pada periode mutakhir akhirnya
   269   270   271   272   273   274   275   276   277   278   279