Page 272 - Menabung_Ebook
P. 272
Selain itu, bank inilah yang kemudian menjadi “cikal bakal” berdirinya
lembaga keuangan “pegadaian” di Indonesia.
Setelah itu, pada tahun 1752 di bawah pimpinan Gubernur Jenderal
Mossel didirikan Bank van Courant dan Bank van Leening disatukan menjadi
Bank Courant en Bank van Leening. Lembaga bank itu yang menjadi cikal bakal
perbankan nasional menerbitkan sertifikat deposito yang diminati orang.
Kedua bank itulah yang didirikan Belanda sampai dengan VOC bubar pada
tahun 1799. Setelah VOC dibubarkan, tahun 1800—1942 kolonial Belanda
mendirikan pemerintahan baru dengan nama Hindia Belanda. Muncullah
Bank Nederlandsche Handel Maatschapij (1824), De Javasche Bank (1828),
Escompobank (1857), Nederlandshe Indische Handel Bank (1841), dan
Postspaarbank (1897). Bank yang terakhir itulah yang kemudian berubah
nama menjadi Chokin Kyoku pada zaman Jepang dan sekarang menjadi Bank
Tabungan Negara.
Meskipun Ppemerintah Hindia Belanda telah mendirikan berbagai
macam bank sebagai tempat menabung bentuk baru, sampai dengan
Belanda dikalahkan Jepang pada tahun 1942 atau selama hampir 145
tahun, keberadaan celengan dan lumbung masih tetap berjalan. Bahkan,
sampai tahun 20-an keberadaan lumbung dijadikan lembaga yang bertugas
mengurus gudang beras atau lumbung padi (Rijstschuren). Persediaan padi
dalam lumbung itu dapat digunakan pada masa kurang pangan dan dapat
dijual pada waktu yang tepat bagi petani. Dengan cara begitu pula, kebebasan
para tengkulak dapat dibatasi.
Selain Belanda tetap menjaga keberadaan lumbung, juga dibentuk
Simpulan lembaga “Bank Desa” (Dorpsbanken) berupa bank uang yang meminjamkan
uang dengan bunga untuk pembelian benih, pupuk, peralatan pertanian
kecil, pendirian usaha kecil, dan sebagainya. …(Pemerintah)? tidak hanya
menganjurkan menabung di lembaga tempat menabung, tetapi dapat
melakukan cara atau metode masyarakat dalam menabung secara manual,
seperti menyimpan perhiasan dan menyimpan uang di rumah.
Pada masa penjajahan Jepang yang hanya sekitar 3,5 tahun, tradisi
262 menabung di kalangan bumiputra mengalami kemuduran yang serius. Hal
itu terjadi karena kehidupan perekonomian masa itu secara umum sangat
buruk. Sistem perekonomian Jepang memaksa rakyat dijadikan romusa.
Petani harus bekerja, tetapi hasil pertanian dan perkebunannya dirampas
oleh Jepang. Hal itulah yang menyebabkan rakyat mengalami kesengsaraan
luar biasa. Tradisi menabung dalam celengan terpukul karena rakyat dalam
keadaan miskin, tidak mempunyai sisa penghasilan yang dapat ditabung,
demikian pula halnya dengan tradisi menyimpan sisa hasil panen padi di
lumbung. Lumbung mereka kosong termasuk lumbung desa desa.

