Page 320 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 320

tidak pernah peduli dengan pencatatan   sejak Hamzah Fansuri, Nuruddin                              adalah Al-Shirâth Al-Mustaqîm, Jawâhir   Neo-sufisme menekankan pentingnya
            daerah mana saja yang sudah masuk       Al-Raniri, ‘Abd Al-Ra’uf Al-Sinkili,                        Al-Ulum fî Kasyf Al-Ma’lum, Bustân     syari’at dalam praktik tasawuf.
            Islam, kapan tahun masuknya, berapa     ‘Abd Al-Shamad Al-Palimbani, Yusuf                          Al-Salâthîn, Al-Fath al-Mubîn ‘ala al-
            jumlahnya, apalagi penulisannya         Al-Makassari dan lainnya yang                               Mulhidîn, Hidâyat Al-Habîb fī Al-Targhîb   Kembali ke islamisasi di Asia Tenggara,
            “ilmiah” atau tidak. Bila pun ada,      terlibat dalam wacana intelektual yang                      wa Al-Tartîb, Tibyân fî Ma’rifat al-Adyân   proses ini adalah sebuah sukses
            kisah dakwah penyebaran Islam itu       produktif. Hamzah Fansuri, seorang                          dan lain-lain. Masih dari Aceh, ‘Abd   besar terutama bila dilihat dari aspek
            dituliskan oleh orang lain, segenerasi   tokoh tasawuf yang berfaham wahdatul                       Al-Ra’uf al-Sinkili juga banyak menulis   geografis yaitu jarak yang sangat jauh
            atau tidak, atau perintah untuk         wujud Ibnu Arabi, adalah juga seorang                       karya seperti Mir’at Al-Thullâb fî Tashîl   dari pusatnya di Timur Tengah. Jarak
            kepentingan catatan politik kerajaan    sastrawan yang memperkenalkan dan                           Ma’rifât Al-Ahkâm Al-Syar’iyyah li Al-  yang jauh ini cukup mengherankan bila
            seperti merekam sejarah kebesaran       memasukkan bentuk syair ke dalam                            Malik Al-Wahhab dan Kitâb Al-Farâidh   dilihat dari konteks tradisional saat itu
            kerajaan. Menuliskannya adalah minat    sastra Melayu sehingga syair-syairnya                       tentang fiqh, Tarjuman Al-Mustafîd yang   ketika alat transportasi masih sangat
            para pembesar atau sastrawan pada       dikenal sebagai syair Melayu tertua.                        terkenal tentang tafsir, Kifâyat Al-   sederhana dan tidak ada organisasi yang
            zamannya yang menggunakan catatan       Karya-karya Hamzah dikenal sebagai                          Muhtajîn tentang mistik dan tasawuf    kuat yang mengorganisir penyebaran
            dan daya ingat, bukan sumber dalam      “peletak dasar bagi peranan bahasa                          dan seterusnya. Al-Palimbani dari      Islam (Ricklefs 1993: 18). Keheranan itu
            pengertian modern. Jadi, historiografi   Melayu sebagai bahasa keempat di                           Palembang menulis beberapa karyanya    semakin menguat mengingat islamisasi
            tradisional, terlepas dari kekurangan-  dunia Islam setelah bahasa Arab, Persia                     yang berkaitan dengan Imam Al-         masa klasik mampu menggeser
            kekurangannya, adalah sumber yang       dan Turki Usmani” (Ensiklopedi Islam,                       Ghazali yang kemudian dikenal sebagai   kebudayaan Hindu India yang
            sah dalam kajian sejarah. Sejarah ilmiah   jilid 2, hal. 78). Karya-karyanya dalam                  karya-karyanya yang terkenal yaitu     sudah berakar ratusan tahun dalam
            tinggal membatasinya pada fakta-fakta   bentuk prosanya antara lain Asrâr al-                       Fadhâ’il Al-Ihyâ’ li Al-Ghazâli, Hidâyat Al-  endapan kultur, tradisi dan keyakinan
            yang rasional dan faktual. Di luar      ‘Arifîn fî Bayân Ilm as-Suluk wa Tauhid                     Sâlikîn fi Suluk Maslak Al-Muttaqîn, Sayr   masyarakat pribumi Nusantara. Padahal,
            kontroversi kisah-kisah Walisongo,      (Keterangan Menganai Perjalanan Ilmu                        Al-Sâlikîn ila ‘Ibâdah Rabb Al-‘Alamîn dan   seperti dikatakan George Coedès (1975),
            kiprah mereka sebagai sufi dan para wali   Suluk dan Tauhid) Syarâb al-‘Asyiqîn                     lain-lain. Sedangkan Yusuf al-Maqassari   ahli Asia Tenggara klasik, ekspansi
            penyebar Islam di Jawa tak ada yang     (Minuman Orang-orang yang Mencintai                         dari Sulawesi Selatan juga menulis     kebudayaan India ke Asia Tenggara
            meragukan hingga masa runtuhnya         Tuhan). Sedangkan karya-karyanya                            beberapa karya, di antaranya Safînat Al-  adalah “one of the outstanding events in
            Madjapahit dan berdirinya kerajaan      dalam bentuk syair antara lain Syair                        Najâh, Al-Nahfat Al-Saylâniyyah, Muthâlib   the history of the world, one which has
            Islam Demak.                                                                                                                               determined the destiny of a good portion of
                                                    Burung Pingai, Syair Burung Pungguk,                        Al-Sâlikîn, Taj Al-Asrâr, Al-Fawâ’ih Al-  mankind.”
            Pascaera kerajaan-kerajaan Islam para   Syair Perahu dan Syair Dagang. Al-Raniri                    Yusufiah, Zubdat Al-Asrâr dan lain-lain.
            sufi mengalami metamorfosis dari        menurut Azra (1994: 180) menulis                            Para sufi-intelektual ini, terlibat dalam   Walaupun kompromi dengan
            “sufi islamisasi” ke “sufi Intelektual”   sebanyak 29 karya. Karya-karyanya itu                     mainstream gagasan “neo-sufisme” (Azra   kepercayaan lama masih berlangsung
            abad ke-17/18. Sufi intelektual ini     menyangkut berbagai aspek disiplin                          1994) yang mengkritik gagasan sufisme   selama periode islamisasi, Islam telah
            hadir semarak dalam tradisi wacana      keislaman: tasawuf, kalam, fiqh, hadits,                    klasik yang berkembang pada abad       tumbuh secara meyakinkan dan secara
            keilmuan melalui kehadiran ulama-       sejarah dan perbandingan agama. Di                          tersebut yang cenderung berorientasi   drastis menggantikan kebudayaan
            ulama besar dan pujangga Nusantara      antara karyanya yang terkenal misalnya                      eskapistik, heretikal dan heterodoks.   Hindu yang sudah berakar kuat di



         308    Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik                                                                                           Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   309
   315   316   317   318   319   320   321   322   323   324   325