Page 317 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 317

Peranan Para Saudagar Sufi  perak (silver boom). Dalam periode   memiliki pengaruh keturunan darah   penyebaran Islam. Kisah pengislaman,
 ini pulalah, kata Meuleman (1998),   raja yang memperkuat legitimasi dan   unsur-unsur mitos, dongeng dan
 Dalam gelombang berikutnya, dakwah   kawasan Asia Tenggara mengalami apa   melengkapi kharisma keagamaan   legenda. Unsur-unsur itu dalam
 Islam di Nusantara diuntungkan oleh   yang dalam zaman modern disebut   mereka.” (61: 10-23).  historiografi tradisional merupakan
 kondisi mundurnya dunia Islam dalam   sebagai zaman “globalisasi” oleh hiruk-  proses historis yang wajar. Menurut
 level internasional yang kemudian   pikuk perdagangan yang menggiring   Antara abad ke-15-17, di Jawa, peranan   Azyumardi (2001), kisah kesejarahan
 menjadi hikmah tersendiri (blessing   masyarakat Islam di kepulauan tersebut   para guru spiritual itu semakin   mereka berasal dari tradisi lisan yang
 in disguise). Mundurnya dunia Islam   menjadi world-citizenry (warga dunia). 20  mengental pada sosok para wali yang   kemudian beredar dan ditransmisikan
 pasca runtuhnya Baghdad abad ke-  disebut Walisongo. Mereka adalah Syekh   di kalangan ulama. Seiring perjalanan
 13 akibat serangan pasukan Hulagu   Menyebut para sufi berarti melihat   Maulana Malik Ibrahim atau Sunan   sejarah kemudian menyebar ke
 Khan dari Mongol tahun 1258   peranan tasawuf dan gerakan tarekat   Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang,   kalangan masyarakat luas melalui
 memproduksi arus historis sejarah yang   sebagai pendorong penting dari proses   Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria,   “mnemonic devices” (media ingatan)
 menguntungkan. Para sufi mengalami   islamisasi di Nusantara. Peranan yang   Sunan Kudus, Sunan Kalijaga dan   atau Taufik Abdullah menyebutnya
 diaspora ke berbagai negara dan yang   dimainkan para sufi dan saudagar dalam   Sunan Gunung Djati. Tentu saja wali   “network of collective memory.” Dalam
 paling masif mengalir ke Nusantara   proses islamisasi ini hampir tak ada   Jawa bukan hanya mereka ada juga   proses penyebaran kisah-kisah mereka,
 melalui perdagangan. Anthony H.   perdebatan di antara para sejarawan.   Syekh Siti Jenar, Syekh Bentong, Sunan   media ingatan atau memori kolektif
 Johns melihat periode ini sebagai   Johns mendeskripsikan, mereka   Tembayat, Sunan Geseng dan lain-lain   ini tak bisa menjaga keaslian cerita
 saat dunia Islam sedang didominasi   sebagai para guru pengembara yang   yang tidak disebut sebagai tim wali   dan historisitas periwayatan sehingga
 oleh faham tasawuf. Para sufi yang   pergi ke berbagai arah penjuru dunia   sembilan. Peninggalan arkeologis baik   terjadilah distorsi dan penambahan,
 kecewa melihat rendahnya moralitas   yang mereka kenal. Mereka menjalani   berupa keraton, masjid dan makam   bercampur dengan legenda dan mitos
 para politisi dan kemunduran politik   hidup apa adanya dan berhubungan   masih terus ramai dikunjungi para   dalam pengertian Barat. Tradisi lisan ini,
 dunia Islam di kawasan Timur Tengah   dengan para pedagang atau perajin   panziarah. Manuskrip-manuskrip tua   lanjut Azyumardi, kemudian dituliskan
 kemudian menyebar ke berbagai   lokal dengan cara masing-masing;   yang mendokumentasikan catatan   menjadi cerita sejarah dalam naskah-
 wilayah. Mereka banyak tempat di   Mereka mengajarkan teosofi yang telah   aktivitas, peranan dan perjalanan   naskah, yang itulah sebabnya, cerita
 jalur-jalur laut yang memperkuat   bercampur dan dikenal luas tetapi sudah   mereka. Ramainya para penziarah   mereka terdapat bumbu-bumbu mitos
 proses islamisasi Asia Tenggara hingga   mereka yakini meskipun dalam bentuk   yang tak pernah surut di situs-situs   dan legenda.
 abad ke-17. Begitu hidupnya suasana   pengembangan ajaran Islam. Mereka   pemakaman menguatkan kedudukan
 masif proses islamisasi oleh para   memiliki kekuatan gaib, kekuatan   mereka sebagai ulama dan wali.   Perspektif lain tentang Walosongo
 mubalig sufi dalam jalur perdagangan   menyembuhkan. Guru-guru tasawuf itu   Sumber-sumber lokal atau historiografi   diberikan oleh Hasanu Simon dari
 dan di banyak pelabuhan, Anthony   dengan ilmu dan kemampuannya dan   tradisional di Jawa dalam bentuk serat,   Universitas Gajah Mada. Ia mengajak
 Reid (1993: 133) menangkap periode   dengan kekuatan spiritualnya mampu   hikayat dan babad seperti Babad Tanah   untuk meninggalkan dunia mitos dan
 ini sebagai abad “religious revolution”   menarik hati gadis-gadis dan mengawini   Jawi, Babad Demak, Babad Cirebon, dan   memasuki dunia ilmu dalam memahami
 yang terjadi antara tahun 1570-1630   putri-putri bangsawan Indonesia, dan   Carita Purwaka Caruban Nagari menyebut   sejarah islamisasi Jawa. Saat mempelajari
 dalam masa semaraknya perdagangan   dengan demikian, anak-anak mereka   dan mengakui peranan Walisongo dalam   sejarah kedatangan Belanda, Hasanu



 304  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   305
   312   313   314   315   316   317   318   319   320   321   322