Page 316 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 316
Peranan Para Saudagar Sufi perak (silver boom). Dalam periode memiliki pengaruh keturunan darah penyebaran Islam. Kisah pengislaman,
ini pulalah, kata Meuleman (1998), raja yang memperkuat legitimasi dan unsur-unsur mitos, dongeng dan
Dalam gelombang berikutnya, dakwah kawasan Asia Tenggara mengalami apa melengkapi kharisma keagamaan legenda. Unsur-unsur itu dalam
Islam di Nusantara diuntungkan oleh yang dalam zaman modern disebut mereka.” (61: 10-23). historiografi tradisional merupakan
kondisi mundurnya dunia Islam dalam sebagai zaman “globalisasi” oleh hiruk- proses historis yang wajar. Menurut
level internasional yang kemudian pikuk perdagangan yang menggiring Antara abad ke-15-17, di Jawa, peranan Azyumardi (2001), kisah kesejarahan
menjadi hikmah tersendiri (blessing masyarakat Islam di kepulauan tersebut para guru spiritual itu semakin mereka berasal dari tradisi lisan yang
in disguise). Mundurnya dunia Islam menjadi world-citizenry (warga dunia). 20 mengental pada sosok para wali yang kemudian beredar dan ditransmisikan
pasca runtuhnya Baghdad abad ke- disebut Walisongo. Mereka adalah Syekh di kalangan ulama. Seiring perjalanan
13 akibat serangan pasukan Hulagu Menyebut para sufi berarti melihat Maulana Malik Ibrahim atau Sunan sejarah kemudian menyebar ke
Khan dari Mongol tahun 1258 peranan tasawuf dan gerakan tarekat Gresik, Sunan Ampel, Sunan Bonang, kalangan masyarakat luas melalui
memproduksi arus historis sejarah yang sebagai pendorong penting dari proses Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Muria, “mnemonic devices” (media ingatan)
menguntungkan. Para sufi mengalami islamisasi di Nusantara. Peranan yang Sunan Kudus, Sunan Kalijaga dan atau Taufik Abdullah menyebutnya
diaspora ke berbagai negara dan yang dimainkan para sufi dan saudagar dalam Sunan Gunung Djati. Tentu saja wali “network of collective memory.” Dalam
paling masif mengalir ke Nusantara proses islamisasi ini hampir tak ada Jawa bukan hanya mereka ada juga proses penyebaran kisah-kisah mereka,
melalui perdagangan. Anthony H. perdebatan di antara para sejarawan. Syekh Siti Jenar, Syekh Bentong, Sunan media ingatan atau memori kolektif
Johns melihat periode ini sebagai Johns mendeskripsikan, mereka Tembayat, Sunan Geseng dan lain-lain ini tak bisa menjaga keaslian cerita
saat dunia Islam sedang didominasi sebagai para guru pengembara yang yang tidak disebut sebagai tim wali dan historisitas periwayatan sehingga
oleh faham tasawuf. Para sufi yang pergi ke berbagai arah penjuru dunia sembilan. Peninggalan arkeologis baik terjadilah distorsi dan penambahan,
kecewa melihat rendahnya moralitas yang mereka kenal. Mereka menjalani berupa keraton, masjid dan makam bercampur dengan legenda dan mitos
para politisi dan kemunduran politik hidup apa adanya dan berhubungan masih terus ramai dikunjungi para dalam pengertian Barat. Tradisi lisan ini,
dunia Islam di kawasan Timur Tengah dengan para pedagang atau perajin panziarah. Manuskrip-manuskrip tua lanjut Azyumardi, kemudian dituliskan
kemudian menyebar ke berbagai lokal dengan cara masing-masing; yang mendokumentasikan catatan menjadi cerita sejarah dalam naskah-
wilayah. Mereka banyak tempat di Mereka mengajarkan teosofi yang telah aktivitas, peranan dan perjalanan naskah, yang itulah sebabnya, cerita
jalur-jalur laut yang memperkuat bercampur dan dikenal luas tetapi sudah mereka. Ramainya para penziarah mereka terdapat bumbu-bumbu mitos
proses islamisasi Asia Tenggara hingga mereka yakini meskipun dalam bentuk yang tak pernah surut di situs-situs dan legenda.
abad ke-17. Begitu hidupnya suasana pengembangan ajaran Islam. Mereka pemakaman menguatkan kedudukan
masif proses islamisasi oleh para memiliki kekuatan gaib, kekuatan mereka sebagai ulama dan wali. Perspektif lain tentang Walosongo
mubalig sufi dalam jalur perdagangan menyembuhkan. Guru-guru tasawuf itu Sumber-sumber lokal atau historiografi diberikan oleh Hasanu Simon dari
dan di banyak pelabuhan, Anthony dengan ilmu dan kemampuannya dan tradisional di Jawa dalam bentuk serat, Universitas Gajah Mada. Ia mengajak
Reid (1993: 133) menangkap periode dengan kekuatan spiritualnya mampu hikayat dan babad seperti Babad Tanah untuk meninggalkan dunia mitos dan
ini sebagai abad “religious revolution” menarik hati gadis-gadis dan mengawini Jawi, Babad Demak, Babad Cirebon, dan memasuki dunia ilmu dalam memahami
yang terjadi antara tahun 1570-1630 putri-putri bangsawan Indonesia, dan Carita Purwaka Caruban Nagari menyebut sejarah islamisasi Jawa. Saat mempelajari
dalam masa semaraknya perdagangan dengan demikian, anak-anak mereka dan mengakui peranan Walisongo dalam sejarah kedatangan Belanda, Hasanu
304 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 305

