Page 321 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 321
tidak pernah peduli dengan pencatatan sejak Hamzah Fansuri, Nuruddin adalah Al-Shirâth Al-Mustaqîm, Jawâhir Neo-sufisme menekankan pentingnya
daerah mana saja yang sudah masuk Al-Raniri, ‘Abd Al-Ra’uf Al-Sinkili, Al-Ulum fî Kasyf Al-Ma’lum, Bustân syari’at dalam praktik tasawuf.
Islam, kapan tahun masuknya, berapa ‘Abd Al-Shamad Al-Palimbani, Yusuf Al-Salâthîn, Al-Fath al-Mubîn ‘ala al-
jumlahnya, apalagi penulisannya Al-Makassari dan lainnya yang Mulhidîn, Hidâyat Al-Habîb fī Al-Targhîb Kembali ke islamisasi di Asia Tenggara,
“ilmiah” atau tidak. Bila pun ada, terlibat dalam wacana intelektual yang wa Al-Tartîb, Tibyân fî Ma’rifat al-Adyân proses ini adalah sebuah sukses
kisah dakwah penyebaran Islam itu produktif. Hamzah Fansuri, seorang dan lain-lain. Masih dari Aceh, ‘Abd besar terutama bila dilihat dari aspek
dituliskan oleh orang lain, segenerasi tokoh tasawuf yang berfaham wahdatul Al-Ra’uf al-Sinkili juga banyak menulis geografis yaitu jarak yang sangat jauh
atau tidak, atau perintah untuk wujud Ibnu Arabi, adalah juga seorang karya seperti Mir’at Al-Thullâb fî Tashîl dari pusatnya di Timur Tengah. Jarak
kepentingan catatan politik kerajaan sastrawan yang memperkenalkan dan Ma’rifât Al-Ahkâm Al-Syar’iyyah li Al- yang jauh ini cukup mengherankan bila
seperti merekam sejarah kebesaran memasukkan bentuk syair ke dalam Malik Al-Wahhab dan Kitâb Al-Farâidh dilihat dari konteks tradisional saat itu
kerajaan. Menuliskannya adalah minat sastra Melayu sehingga syair-syairnya tentang fiqh, Tarjuman Al-Mustafîd yang ketika alat transportasi masih sangat
para pembesar atau sastrawan pada dikenal sebagai syair Melayu tertua. terkenal tentang tafsir, Kifâyat Al- sederhana dan tidak ada organisasi yang
zamannya yang menggunakan catatan Karya-karya Hamzah dikenal sebagai Muhtajîn tentang mistik dan tasawuf kuat yang mengorganisir penyebaran
dan daya ingat, bukan sumber dalam “peletak dasar bagi peranan bahasa dan seterusnya. Al-Palimbani dari Islam (Ricklefs 1993: 18). Keheranan itu
pengertian modern. Jadi, historiografi Melayu sebagai bahasa keempat di Palembang menulis beberapa karyanya semakin menguat mengingat islamisasi
tradisional, terlepas dari kekurangan- dunia Islam setelah bahasa Arab, Persia yang berkaitan dengan Imam Al- masa klasik mampu menggeser
kekurangannya, adalah sumber yang dan Turki Usmani” (Ensiklopedi Islam, Ghazali yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan Hindu India yang
sah dalam kajian sejarah. Sejarah ilmiah jilid 2, hal. 78). Karya-karyanya dalam karya-karyanya yang terkenal yaitu sudah berakar ratusan tahun dalam
tinggal membatasinya pada fakta-fakta bentuk prosanya antara lain Asrâr al- Fadhâ’il Al-Ihyâ’ li Al-Ghazâli, Hidâyat Al- endapan kultur, tradisi dan keyakinan
yang rasional dan faktual. Di luar ‘Arifîn fî Bayân Ilm as-Suluk wa Tauhid Sâlikîn fi Suluk Maslak Al-Muttaqîn, Sayr masyarakat pribumi Nusantara. Padahal,
kontroversi kisah-kisah Walisongo, (Keterangan Menganai Perjalanan Ilmu Al-Sâlikîn ila ‘Ibâdah Rabb Al-‘Alamîn dan seperti dikatakan George Coedès (1975),
kiprah mereka sebagai sufi dan para wali Suluk dan Tauhid) Syarâb al-‘Asyiqîn lain-lain. Sedangkan Yusuf al-Maqassari ahli Asia Tenggara klasik, ekspansi
penyebar Islam di Jawa tak ada yang (Minuman Orang-orang yang Mencintai dari Sulawesi Selatan juga menulis kebudayaan India ke Asia Tenggara
meragukan hingga masa runtuhnya Tuhan). Sedangkan karya-karyanya beberapa karya, di antaranya Safînat Al- adalah “one of the outstanding events in
Madjapahit dan berdirinya kerajaan dalam bentuk syair antara lain Syair Najâh, Al-Nahfat Al-Saylâniyyah, Muthâlib the history of the world, one which has
Islam Demak. determined the destiny of a good portion of
Burung Pingai, Syair Burung Pungguk, Al-Sâlikîn, Taj Al-Asrâr, Al-Fawâ’ih Al- mankind.”
Pascaera kerajaan-kerajaan Islam para Syair Perahu dan Syair Dagang. Al-Raniri Yusufiah, Zubdat Al-Asrâr dan lain-lain.
sufi mengalami metamorfosis dari menurut Azra (1994: 180) menulis Para sufi-intelektual ini, terlibat dalam Walaupun kompromi dengan
“sufi islamisasi” ke “sufi Intelektual” sebanyak 29 karya. Karya-karyanya itu mainstream gagasan “neo-sufisme” (Azra kepercayaan lama masih berlangsung
abad ke-17/18. Sufi intelektual ini menyangkut berbagai aspek disiplin 1994) yang mengkritik gagasan sufisme selama periode islamisasi, Islam telah
hadir semarak dalam tradisi wacana keislaman: tasawuf, kalam, fiqh, hadits, klasik yang berkembang pada abad tumbuh secara meyakinkan dan secara
keilmuan melalui kehadiran ulama- sejarah dan perbandingan agama. Di tersebut yang cenderung berorientasi drastis menggantikan kebudayaan
ulama besar dan pujangga Nusantara antara karyanya yang terkenal misalnya eskapistik, heretikal dan heterodoks. Hindu yang sudah berakar kuat di
308 Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik 309

