Page 327 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 327

atau “Islam yang belum selesai” tapi   Ja’far Shadiq menegakkan kewaliannya   Banjar masuk Islam. Demikian juga   dengan istilahnya “race theory” (teori
 mudah diterima oleh penduduk pribumi   tanpa kelewang, keris, atawa senjata   Sultan Abdullah dari Tallo yang   balapan). Bagi Schrieke, perkembangan
 karena Islam disampaikan tidak melalui   pamungkas apapun kecuali iman yang   keislamannya diikuti oleh seluruh   Islam tidak mungkin difahami dan
 sederetan pelarangan, pengharaman dan   diyakininya. Begitu pula dengan wali   penduduk kerajaan Makassar dan Bugis   akselerasinya diketahui bila tidak
 penentangan. Pendekatan inilah yang   yang lain.” 25  dalam kurun tahun 1605–1612. Penguasa   mempertimbangkan faktor konflik,
 kemudian memunculkan ”grand theory”   politik (raja, sultan) sangat strategis   persaingan dan permusuhan antara
 bahwa Islam disebarkan di Indonesia   dalam mempengaruhi rakyatnya apalagi   orang-orang Islam dengan bangsa
 melalui jalan damai. Majalah Gatra 22   Keempat, Peranan Penguasa   dalam kesadaran tradisional di mana   Portugis.  Walaupun tidak semua setuju
                                                            26
 Desember 2001 menerbitkan edisi khusus  Politik  raja sangat dipatuhi. Kedudukan mereka   dengan pandangan Schrieke, namun
 tentang kiprah dakwah parawali dengan   Para penguasa kerajaan memegang   sangat strategis dalam perkembangan   beberapa sejarawan melihatnya sebagai
 cover: “Walisongo: Syiar Panjang tanpa   peranan penting dalam penguatan   Islam.  sesuatu yang masuk akal. Balapan
 Pedang.” Sebuah hikayat menceritakan   proses dakwah Islam. Masuknya Islam   (race) atau lebih tepatnya persaingan
 prototipe dakwah walisongo:
 ke sebuah komunitas masyarakat   Kelima, Persaingan dengan   (competition), sangat mungkin terjadi
 Tatkala Ja’far Shadiq tiba di Kudus,   banyak diprakarsai oleh kelompok   Kristen  terutama pada masa sudah masuknya
 (Jawa Tengah), untuk menyebarkan   elit penguasa yang kemudian diikuti   pengaruh Kristen di Asia Tenggara.
 Islam, dia membeli seekor sapi, lalu   oleh rakyatnya. Dengan demikian,   Sejak abad ke-16, Islam lagi tidak
 menambatkannya di depan rumahnya.   islamisasi berlangsung efektif karena   sendirian di Nusantara. Sejak
 Umat Hindu, mayoritas penduduk   kedudukan dan peranan raja dan istana   Portugis mulai mengukuhkan   Keenam, Aristokrasi Hindu dan
 masa itu, dengan gairah menanti kapan   sangat sentral dihadapan rakyatnya   pengaruhnya setelah merebut Malaka   Egalitarianisme Islam
 Ja’far menyembelih hewan suci dalam   seperti Sultan Muhammad Syah, Raja   tahun 1511, Kristen mulai masuk di   Pandangan egalitarianisme berperan
 pemahaman rohani mereka itu. Dari hari   Malaka yang pertama masuk Islam   perairan Nusantara yang kemudian
 ke hari, sapi itu hanya diberi rumput   kemudian diikuti semua rakyatnya   dikembangkan Belanda, Inggris   dalam islamisasi dikemukakan oleh
 dan air, dan didampingi api unggun   seperti diceritakan dalam Sejarah Melayu.   dan Spanyol melalui kolonialisasi.   Coedès. Ia melihat Hinduisme sebagai
 pada malam hari, agar tak diganggu   Demikian juga Halu Oleu atau Timbang-  islamisasi yang sebelumnya sebagai   faktor pendukung masuknya Islam
 serangga dan udara dingin. Suatu ketika   timbangan raja ke-6 Kerajaan Buton   single player mulai mendapat saingan   disebabkan struktur kasta dalam
 seorang Hindu bertanya, “Kapan Tuan   masuk Islam pada 1538 yang kemudian   yaitu Kristenisasi walapun dalam   agama itu yang membantu akselerasi
 menyembelih sapi ini?” Ja’far menjawab,   diikuti serentak oleh rakyatnya.   skala kecil. Adanya kristenisasi yang   masyarakat mengadopsi Sanghalese
 “Saya tak berniat menyembelihnya.   Alauddin, Raja Gowa mengumumkan   dibawa para penguasa kolonial telah   Buddhisme dan Islam. Dalam Islam
 Lagi pula, di dalam kitab suci kami,   Islam sebagai agama resmi kerajaannya   memberikan sumbangan energi tanpa   mereka menemukan egalitarianisme
 ada surat yang judulnya Al-Baqarah,   tahun 1605 dan memerintahkan   sadar bagi proses islamisasi. Schrieke   demokratis yang memungkinkan semua
 sapi betina.” Untuk waktu yang lama   seluruh rakyatnya masuk Islam. Sultan   melihat pentingnya faktor eksternal pada   individu mendapat derajat yang tinggi di
 –bahkan mungkin sampai sekarang–   Suriansyah, di Kalimantan, mengajak   penyebaran agama yaitu persaingan   mata Tuhan yang status tidak didasarkan
 tak ada penyembelihan sapi di Kudus.   para pembesar dan rakyat Kesultanan   rebutan umat antara Islam dan Kristen   pada keturunan melainkan perbuatan.



 314  Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   315
   322   323   324   325   326   327   328   329   330   331   332