Page 355 - Final Sejarah Islam Asia Tenggara Masa Klasik
P. 355

Bab VI
                          Institusi dan Praktik Keagamaan




                                           Setyadi Sulaiman
                                           Jajat Burhanudin



               nstitusi dan praktik keagamaan       ulama sufi, begitu pula dengan karya-
               di Asia Tenggara, adalah wujud       karya keagamaan (kitab) yang mereka
            Ipenterjemahan ajaran Islam             tulis. Jadi perlu dicatat bahwa isu-isu
            dikalangan penduduk Muslim, yang        keagamaan yang menjadi perdebatan
            terkonsentasi di kota-kota kerajaan,    pada masa awal Islam berkisar pada
            dalam kehidupan sosial-politik          ajaran sufisme. Di samping itu,
            dan budaya. Wujud dari praktik          perkembangan sufisme juga terkait
            keagamaan yang menonjol dalam masa      dengan fakta bahwa aspek ajaran Islam
            prakolonial, yakni hukum, sufisme,      ini, yang menekankan dimensi spiritual,
            dan pendidikan. Terkait dengan aspek    dirumuskan dalam kerangka politik-
            pertama, hukum—selain mengacu pada      berorientasi raja. Konsep insan kamil
            kehidupan komunitas Muslim yang         dalam sufisme misalnya berkembang
            berusaha mempraktikkan ajaran-ajaran    menjadi konsep raja sufi. Karena itu,
            Islam, juga merujuk pada praktik dan    pertumbuhan sufisme juga didukung
            institusi hukum di kerajaan. Aspek      istana.
            hukum adalah satu bidang yang menjadi
            perhatian penguasa dalam proses         Sedangkan pendidikan, pembahasan
            pembentukan dan konsolidasi kerajaan.   diarahkan pada proses pembelajaran
                                                    yang berlangsung di istana kerajaan
            Sedangkan aspek kedua, sufisme, terkait   maupun di tengah tokoh masyarakat
            dengan aliran pemikian Islam yang       yaitu suatu bentuk praktik keagamaan
            paling awal di Asia Tenggara. Bahkan,   yang kemudian dilembagakan dalam
            keberhasilan Islamisasi dihubungkan     wujud pesantren di Jawa, pondok
            dengan sifat ajaran sufisme yang adaptif   di dunia Melayu (Sumatera dan
            pada keragaman pola kehidupan budaya,   Semenanjung Malaya serta Patani),
            yang masih melanjutkan tradisi pra-     surau di Minangkabau dan dayah di
            Islam. Pandangan ini didukung fakta     Aceh. Lembaga pendidikan ini telah
            bahwa ulama Nusantara pada masa         berjasa menciptakan kaum Muslim
            awal perkembangan Islam adalah          yang memiliki kemampuan intelektual




                                                   Dinamika islam Di asia tenggara: masa klasik   343
   350   351   352   353   354   355   356   357   358   359   360