Page 108 - PANJUL DAN SAMIN
P. 108

juga,  Samin,  Sumari,  dan  Jumari  sudah  menunggunya
              dari tadi.

                    Mereka  belum  menaaikkan  layangannya.  Terlihat
              mereka  bertiga  sedang  makan  tebu  dipinggir  lapangan.
              Memang  di  sebelah  timur  dan  selatan  lapangan  ada
              tanaman tebu. Tanaman tebu itu milik perangkat desa.

              Anak-anak kecil seusia Panjul memang suka makan tebu.
              Cara makan tebu cukup dengan gigi-gigi mereka dalam
              mengupas kulit tebu.
                    Panjul mendekati temannya yang sedang duduk di

              pinggir  lapangan.  Sambil  membawa  layang-layangnya
              yang  diletakkan  di  punggungnya,  ia  ikut  duduk  di
              samping tiga temannya yang sedang asyik makan tebu.
                    “Njul...  kutunggu  kau  lama  sekali,  kemana  saja
              kamu kok tidak segera datang,” kata Sumari pelan.

                    “Iya, Ri,” jawab Panjul kepada Sumari. “Tadi aku
              masih  mengikal  benangku  agar  menang  dan  bisa
              mengalahkanmu.” Begitu kata Panjul sambil berkelakar.

                    “Oke,  ayo  kita  naikkan  layangan  kita  masing-
              masing,”  kata  Sumari  bersemangat.  Sementara  dua
              temannya  yang  lain,  Samin  dan  Jumari,  hanya  cengar-
              cengir mendengar dua sahabatnya saling beradu kata.
                    Langit  di  atas  lapangan  begitu  cerah.  Sore  yang

              cerah membuat semangat mereka  semakin menggelora.
              Angin bertiup tidak kencang, namun menimbulkan suara
              bergemuruh. Pohon-pohon tebu di sekitar lapangan ikut

              bergerak-gerak ditiup angin sore itu.


                                                                       97
   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113