Page 45 - PANJUL DAN SAMIN
P. 45

Mbah  Karmun  memang  punya  banyak  jerami,
            karena  digunakan  untuk  makanan  sapinya.  Ia  selalu

            mengumpulkan jerami dan menjemurnya sampai kering.
            Setelah  jerami  kering,  pak  tua  itu  membuat  gundukan
            dari  jerami,  ditengah  gundungan  diberi  bambu  untuk
            menangkal  jerami  agar  tetap  berdiri  seperti  gundukan.

            Biasanya  tempat  tumpukan  jerami  berada  di  belakang
            kandang  sapi,  dengan  harapan  sewaktu-waktu  mudah
            mengambilnya karena letaknya tidak jauh.
                  Setelah selesai, Panjul dan Samin menyuruh Sumari

            agar  menyiramkan  minyak  tanah  pada  bulatan  bola
            jerami. Minyak tanah sudah dipersiapkan lebih dahulu.
                  “Ayo,  Ri...  kamu  ambil  minyak  tanah  itu,  lalu
            siramkan pada bola jerami.”
                  “Siap,  Jul,”  kata  Sumari  seakan  seperti  diperintah

            komandan.
                  Mereka  lalu  membuat  tim  layaknya  pertandingan
            sepak bola. Tim dibagi menjadi dua. Masing-masing tim

            terdiri dari empat anak. Sumari, Sugiyanto, Pur dan Joko
            menjadi  tim  merah.  Sedangkan  Panjul,  Samin,  Pardi,
            Jumari menjadi tim putih. Dalam sepak bola api ini tidak
            ada  peraturan  khusus  yang  mengikat,  hanya  saja  di
            antara  kedua  tim  jumlahnya  harus  berimbang.

            Gawangnya pun hanya menggunakan tumpukan sandal
            milik pemain.
                  Bola  akan  dinyalakan  dengan  korek  api  saat

            pertandingan dimulai. Kobaran bola api mulai berlarian


            34
   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50