Page 48 - PANJUL DAN SAMIN
P. 48
kalau saat bulan purnama di mana bulan bersinar
dengan terangnya. Sungguh indah. Maklumlah di jaman
itu belum ada listrik mengaliri pedesaan.
Kebetulan di rumah tetangga Panjul ada salah
seorang satu-satunya pemilik televisi. Ya televisi hitam
putih ukuran 14 inch. Itupun harus dinyalakan dengan
menggunakan tenaga accu yang di stroom setiap satu
minggu sekali. Otomatis harus sehemat mungkin untuk
menyetel atau menyalakan televisinya.
Pemilik televisi mengatakan kepada warga desa
kalau televisi baru akan dinyalakan pada jam 9 malam
karena akan melihat berita di stasiun televisi satu-satunya
yaitu TVRI "Dunia Dalam Berita".
Sebelum melihat tayangan “Dunia Dalam Berita”
anak-anak bermain dulu di pekarangan rumah atau
tanah lapang milik warga desa. Permainan yang sering
dimainkan cukup banyak. ada benthik, jamuran,
lompatan, jelungan alias petak umpet, engklek, main
gambar, dan masih banyak lagi. Sering kali anak-anak
harus saling berebut untuk memenangkan dalam setiap
permainan itu.
Namanya juga anak-anak, terkadang ada yang
saling berantem tapi akhirnya baikan lagi. Kalau nggak
suka sama anak lain terus "dijothak" lalu baikan,
demikian seterusnya. Belum lagi kalau anak-anak saling
berebut untuk memetik buah-buahan. Mau pohon buah
apa saja selalu terasa nikmat untuk dimakan.
37

