Page 268 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 268
“Ces!” Hatiku bagaikan bara arang yang tersiram air.
Alhamduillah yaa Allah. Ada yang mengerti keadaanku.
“Mama, kenapa gak balas?” Pesan kedua muncul.
Rasaku kembali bergejolak. Ingin kupeluk dan kubelai
bungsuku. Dia begitu tegarnya menyemangatiku. Bahkan,
ketika kemarin malam dijemput petugas gugus covid‐19 untuk
menjalani isolasi. Ini semua demi memutus penyebaran virus
yang menghebohkan dunia ini.
“Oh, Adik tahu nih! Pasti Mama gak punya kuota, ya?
Okelah, Ma. Besok Adik kirim. Yakinlah Ma, ada Allah dan
ayah yang menemani Mama dari atas sana.
Assalamualaikum.”
Kubiarkan rasaku larut dalam segala kegelisahan. Berlalu
bersama detak jarum jam dinding. Malam makin larut. Hanya
suara‐suara binatang malam yang menemaniku berjaga.
Sudah tak kudengar suara detak sepatu yang memonitor
bangsal isolasi. Detak‐detik berlari seirama lafaz zikir
terdengar syahdu di telingaku. Membuatku terlelap untuk
menyongsong hari esok.
256 | 80 Cerpenis MediaGuru

