Page 264 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 264
Ah, Mimi, idealismemu belum luntur. Jauh‐jauh kau
datang ke daerah yang sepi dan miskin hiburan ini. Aku
terduduk bimbang. Perpisahan kita yang kacau menghalangi
langkahku menemuimu. Perpisahan yang menyakitkan hatiku.
Kejujuranmu yang datang terlambat. Kasihmu padaku
sebatas persaudaraan. Sementara aku menafsirkan sebagai
perhatian Siti Nurbaya pada Syamsul Bahri. Aku marah dan
benci.
“Mimi, mengapa kau tega padaku!" Tanpa sadar aku
menjerit di atas rerumputan.
Kusisir rambutku dengan jari‐jari tanganku yang
menegang. Dadaku begitu sesak. Wajah terasa panas. Aku tak
kuasa mengendalikan emosi. Mengapa aku menjadi begini?
Aku kecewa pada Mimi, tapi terlangkahkan sampai di sini?
Bolos kerja lagi. Memalukan.
Kuingat‐ingat apa kesalahan Mimi padaku. Rasanya tidak
ada, kecuali kejujurannya yang terlambat itu. Kepalang malu,
aku harus menemui Mimi sekarang. Keputusan itu melompat
begitu saja di pikiranku.
Dengan susah payah akhirnya kutemukan pondokan
Mimi. Keringat dingin mengucur. Tanganku bergetar. Aliran
panas menjalar hebat di seluruh tubuhku. Aku berhenti tepat
di depan kediaman Mimi. Seorang gadis berpakaian longgar
dan berkerudung keluar dari rumah itu. Senyum tipis penuh
kesopanan ditujukan padaku. Kupasang pandanganku
dengan seksama. Mimi, itu bukan Mimiku. Mataku sudah tak
awas, butiran‐butiran hangat mengiringinya. Aku lunglai di
balik kemudi. Kesadaranku menggembara.
252 | 80 Cerpenis MediaGuru

