Page 263 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 263
Oh, Mimi, bagaimana kabarmu sekarang? Mimi yang
kusayang dengan segenap perasaanku, walau harus kuawali
dengan sembunyi‐sembunyi. Pikiranmu, sikap, kepribadian,
keseluruhan dirimu menarik, dan melumpuhkan nuraniku.
Keinginan nurani yang ternyata memisahkan kita. Dukungan
keluarga memberi dorongan untuk menjadikanmu
pelabuhanku. Namun, sampai sekarang ada kayuh sampanmu
yang belum kupahami. Sampai kutemui puisimu ini, yang
sudah kubaca sampai 15 kali.
Puisi ini menyentakkan benih‐benih yang selama ini
terlantar percuma. Benih‐benih yang kucoba benam melalui
tugas‐tugasku. Benih yang tidak tersemai di tanah subur.
Hasrat ingin bertemu Mimi begitu menggebu. Kuremas
rambut hitamku dengan kasar.
Satu minggu sudah aku uring‐uringan. Pertempuran di
hati belum juga berakhir. Hasrat ingin bertemu Mimi
memuncak dan bertarung di jiwa. Seluruh tubuhku terasa tak
bertenaga. Lengan dan kaki terasa lunglai, letoi. Aku sudah
tiga kali ditegur Mbak Ndari, kepala bagianku.
Akhirnya terlangkah kakiku ke tempat Mimi setelah
investigasi tersembunyi yang kulakukan. Betapa aku tertegun
menyaksikan keadaan di sekitar tempat tinggal Mimi.
Lingkungan yang gersang, panas, dan kelabu. Mengapa Mimi
sampai ke tempat seperti ini? Bongkaran aneka pohon besar
di sana‐sini. Tanaman masih merangkak berdiri dan rumah‐
rumah yang ala kadarnya.
Aku bertambah terkejut ketika seseorang menengurku.
Seorang pemuda tanggung. Dari ceritanya kuketahui
keberadaan Mimi. Hampir setahun ini Mimi membina mereka.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 251

