Page 277 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 277
beliau menolak, mungkin merasa sungkan kepadaku. Rasa
lelahnya tidak boleh sia‐sia. Dia harus pulang membawa
rupiah untuk melunasi pembayaran pakaian seragam anaknya
yang baru masuk sekolah menengah pertama (SMP).
Pak Anas masuk ke ruangan kantor majelis guru dan
dengan rasa sedikit segan menghampiriku, menanyakan
pinjaman yang kutawarkan tadi. Dia menceritakan kalau
honor sebagai tukang kebun belum diterima. Gajinya diterima
sekali tiga bulan.
Aku pun mengulurkan uang lima ratus ribu rupiah karena
dana sertifikasi baru saja masuk ke rekeningku. Wajah Pak
Anas sumringah menerima uang yang kuberikan. Lalu
bergegas pulang mengingat hari menjelang sore.
***
Sesampai di rumah Pak Anas menceritakan kepada
istrinya. “Ternyata masih ada orang yang baik di dunia ini ya,
Bu. Ada guru yang memberikan uang dengan ikhlas,” tutur
Pak Anas dengan wajah yang tak lagi sedih.
Pak Anas dan istrinya saling memandang. Mereka
bersyukur atas rezeki yang diterima. Semua yang terjadi
sudah diatur oleh Allah SWT.
Kebahagiaan terpancar dari wajah anaknya karena besok
akan mengambil seragam sekolah. “Hore, akhirnya aku bisa
memakai seragam sekolah baru.” Teriak anak Pak Anas penuh
kegembiraan.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 265

