Page 281 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 281

“Terlambat, Bu, Ngatmi sudah pergi.” Isak tangis suami
              dan anaknya menyatu dengan pecahnya tangisan tetangga di
              tengah malam itu.
                  Kupandangi  tubuh  yang  tak  bernyawa.  Tak  kupedulikan
              tangisan  bayinya  yang  memilukan.  Aku  berdiri  mematung
              tanpa air mata setetes pun. Tak juga ada kesedihan yang bisa
              kupamerkan di rumah itu.
                   Aku  kehilangan  perempuan  itu,  yang  siang  tadi
              menyenandungkan  kepedihan  yang  selama  ini  dia  simpan.
              Bahwa suaminya ringan tangan bila sedang marah. Ada yang
              dikhawatirkan  tentang  anaknya  bila  suatu  saat  dia  mati.
              Kuanggap itu pesan untukku. Namun, bagaimana perempuan
              itu bisa merasa jika dirinya akan dipanggil‐Nya ?
                                          ***
                  Setelah  lima  belas  tahun,  aku  kembali  ke  tempat  ini.
              Sepuluh  depa  di  depanku,  sebuah  pemakaman  tertutup
              hamparan ilalang. Nisan Yu Ngatmi hilang di tengah ilalang.

              Tak  pernah  ada  yang  datang.  Suami  dan  anaknya  kembali
              pulang ke Blora setahun setelah kepergiannya.
                   Seteguk  doa  kukirimkan,  menembus  ilalang  yang
              menutup  nisanmu.  Ketebus  janjiku  untuk  menengokmu.
              Semoga  mengalirkan  kehangatan  pada  jiwamu  yang  dingin
              dan sendiri.












                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 269
   276   277   278   279   280   281   282   283   284   285   286