Page 285 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 285
“Bibi boleh nggak aku indekos dekat kampus?” tanyaku
sambil mencuci piring.
“Nggak usah, Diyah, di sini saja ‘kan bisa irit.”
Aku tidak bisa menolak perkataan bibi. Bagaimana pun
juga aku harus manut karena bibi sudah membiayai kuliahku.
***
Suatu hari aku buka Facebook. Aku kaget karena ada
lelaki mengirim pesan ingin menikahiku. Awalnya aku
abaikan, tapi apakah ini jalan supaya aku bisa keluar dari
rumah bibi? Menikah di usia muda? Kutelusuri FB lelaki itu.
Namanya Wawan, berusia 24 tahun dan bekerja di Jakarta.
Kubalas pesan yang dikirimnya. “Kalau memang serius, lamar
aku kepada orang tuaku.”
Tiga hari kemudian dia benar‐benar bertemu kedua orang
tuaku. Ibu bilang ke Mas Wawan, “Diyah masih kuliah, kalau
memang serius Ibu tidak keberatan. Tolong bimbing Diyah
supaya bisa lulus kuliah.”
Juni 2013 aku pun menikah dengan Mas Wawan. Saat itu
usiaku 20 tahun. Setelah menikah Mas wawan dan aku tinggal
di rumah kontrakan dekat dari kampus. Kujalani kuliah
dengan semangat. Mas Wawan sangat mendukung kuliahku.
Kebahagiaan yang kurasakan ini karena doa dari ibu dan
bapak.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 273

