Page 288 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 288
Hampir setiap malam Harun keluar rumah dengan
berbagai alasan. Sudah setahun rutinitas itu dilakukannya.
Bahkan sudah beberapa bulan tidak pulang ke rumah. Jika
Laila bertanya, jawabannya datar‐datar saja. Sampai pada
akhirnya keluarlah kata‐kata menggunung yang memekakkan
telinga Laila. Seperti kobaran api yang menjilat‐jilat tubuhnya.
Memporak‐porandakan perasaannya.
“Kau ini banyak tanya. Terserah aku mau pergi ke mana.
Jangan lagi ditanya mau pulang atau tidak, itu urusanku. Urus
saja dirimu sendiri!” teriak Harun.
“Aku berhak menanyakan itu, Bang. Aku istrimu,” jawab
Laila lirih.
“Kau tidak seperti istri yang kuharapkan. Istri yang tidak
pandai melayani suami. Masakanmu pun tak lewat
ditenggorokanku. Dasar wanita pemboros!” balas Harun
bertubi‐tubi.
Kata‐kata menyakitkan itu akhirnya tumpah ruah begitu
saja, mencabik‐cabik perasaan Laila. Selain melontarkan kata‐
kata yang tak layak kepada Laila, Harun juga sering
mengancam. Jika Laila tak menuruti apa yang dikatakan, dia
akan melakukan perbuatan nekat. Mengancam sambil
mengacungkan benda tajam. Sungguh membuat Laila
bergidik. Laila sebenarnya sudah tak tahan, apalagi dengan
ancaman suaminya.
Terdengar suara pintu dibuka pada tengah malam,
suaminya pulang. Dia mengetuk pintu kamar dan langsung
memeluk Laila.
“Maafkan Abang, Dik. Abang sudah terlalu banyak
melukaimu,” ucap Harun sambil menangis.
276 | 80 Cerpenis MediaGuru

