Page 280 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 280
danau bagai cawan raksasa berdinding Bukit Barisan.
Perkasanya Seminung yang menjulang membuatku terpaku.
Aku terpental ke masa lalu. Terkenang jejak langkahku
mengabdi untuk tunas bangsa yang terlahir di tempat
terpencil ini. Sebuah perkampungan perantau yang masih
berada di daerah Lampung Barat.
Memori usang hadir bak antrean panjang yang siap
ditayangkan dalam ingatan. Satu demi satu lembaran masa
laluku terurai dengan rapinya. Tiba‐tiba seraut wajah
perempuan melintas dan berhenti dalam benakku.
Terbayang kembali saat‐saat manis yang kulalui
bersamanya. Perempuan beranak satu yang sangat setia
mengisi hari‐hariku yang sunyi karena suamiku pindah tugas
ke kota kecamatan, sejauh setengah hari perjalanan.
“Kelak kujemput, saat kutemukan tempat tinggal yang
cocok.” Begitu ucap suamiku saat akan berangkat ke tempat
barunya.
Sejak itu keakrabanku dengan perempuan itu terjalin bak
saudara sedarah. Bahkan berbagi rahasia menjadi nyanyian
kami berdua. Nyinyiran tetangga berlalu‐lalang menerpa, iri
menyaksikan persaudaraan yang kami hadirkan setiap saat.
Malam itu, saat aku terlelap. Ketukan di dinding papan
kamarku, melenyapkan kantukku. Seorang perempuan
dengan suara gemetar mengabarkan, Yu Ngatmi telah
melahirkan. Namun, ari‐arinya belum bisa keluar. Jantungku
seolah dipompa lebih cepat. Tubuhku ikut bergetar hebat.
Secepat kilat, aku berlari ke rumah Yu Ngatmi.
268 | 80 Cerpenis MediaGuru

