Page 279 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 279

Nisan dan Ilalang

                                    Oleh: Sumarti



              H
                      ari‐hari  terakhirku  terasa  berat  untuk  dilalui.  Bukan
                      tersebab  repotnya  mengemas  barang‐barang  yang
                      akan kami bawa, tapi aku sudah telanjur jatuh hati.
              Telah menyatu dalam cerita suka duka bersama orang‐orang
              di  perkebunan  kopi  ini.  Puncak  yang  selalu  diselimuti  kabut
              pekat. Air sedingin salju dan keriuhan saat memetik bulir‐bulir
              robusta.  Semuanya  menjadi  pemberat  langkahku  untuk
              menjauh.
                  “Kowe sido minggat?’’ terngiang ucapan Yu Ngatmi saat
              mengambil  sepatu  anakku  yang  dijemur  di  atas  atap
              dapurnya.
                  Dia  mengelus  perutnya  yang  membesar,  calon  anak
              kedua, sambil menatapku dengan sendu.
                   “Mungkin  lusa,  Yu.  Suamiku  menjemput  besok  sore,”
              jawabku seraya tersenyum kelu.
                   “Senang ya, meninggalkan aku kesepian di sini.”
                   “Kapan‐kapan  pasti  kutengok  sampeyan,  jangan
              khawatir,” kataku sambil mengelus lembut perutnya. Wajah
              perempuan itu melengos, menghindari tatapanku.
                   “Tak seperti biasanya sikap teman akrabku ini,” pikirku.
                    Sendirian  aku  memandang  hamparan  ilalang  yang
              meliuk‐liuk bagaikan tarian ular. Tempatku berpijak serasa di
              puncak    ketinggian    tak   berbatas.    Kulepas    bebas
              pandanganku.  Jauh  di  bawah  sana  terlihat  birunya  wajah


                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 267
   274   275   276   277   278   279   280   281   282   283   284