Page 303 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 303
terhenti. Sudah lima bulan pula aku dan keluarga harus
pontang‐panting menjaga agar dapur tetap beraktivitas. Biar
lima buah hati kami terhindar dari rasa lapar yang melilit.
Menjaga agar debt‐collector tak sampai menyita barang‐
barang yang pernah kami beli dengan mencicil. Jangan tanya
soal tabungan, aku tak bisa berharap banyak dari pasar
malam. Yang kuperoleh hanya cukup untuk keluargaku
makan, tidak ada yang akan ditabung.
Aku dan istriku tak punya keterampilan lain. Ijazahku
hanya sekolah menengah atas. Tak laku di zaman sekarang.
Para sarjana justru bekerja bersamaku, satu tim denganku.
Husin, Karim, dan Malik adalah para sarjana yang bergabung
denganku mengendalikan komedi putar, tong setan, dan
keranjang bianglala. Nasib mereka tak jauh beda. Berkejaran
dengan waktu untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya.
“Pak Ayub, mulai malam ini, silakan dibongkar semua
peralatan pertunjukan komedi putar, Bapak. Ini masa
pandemi, tidak boleh ada keramaian dan kerumunan,” ujar
petugas dari kepolisian.
Namanya Pak Zainul, kulihat dari papan namanya.
Mungkin Pak Zainul yang memimpin semua aparat itu datang
ke tempatku.
“Kami hanya minta seminggu ini, Pak, tidak lama.
Kasihanilah keluarga kami, hanya dengan ini kami bisa
menafkahi keluarga kami, Pak.” Aku memohon kepada para
petugas satuan polisi pamong praja.
“Belum bisa, Pak. Sekarang memang sudah memasuki
zona kuning, tetapi belum boleh ada keramaian. Tunggu
sampai ada surat keputusan mengizinkan adanya keramaian
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 291

