Page 305 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 305

Daur Ulang

                                    Oleh: Tukirin



              M
                         entari  tersenyum  dari  balik  pepohonan  bersama
                         jingganya untuk menyapa mahluk‐Nya yang penuh
                         warna. Semilir angin menyeruak ruang rindu yang
              kelu.  Semesta  seakan  ikut  bertasbih  menyambut  pagi  yang
              begitu  indah.  Kujalani  sisa  hidup  bersama  wanita  setia  dan
              anak‐anakku.  Di  teras  sempit  ini  kunikmati  secangkir  teh
              hangat suguhan istriku.
                  “Waalaikumussalam,” kujawab salam dari putriku melalui
              gawai dengan senyum ceria, “bagaimana kabarmu, Nak? Bu
              Lek  dan  Pak  Lek  sehat  ‘kan?  Alhamdulillah  Bapak,  ibu,  dan
              adik‐adikmu  sehat.  Kaki  bapak  sudah  bisa  untuk  menapak
              selangkah demi selangkah.”
                  Resti,  putri  sulungku,  sekarang  tinggal  bersama  paman
              dan bibinya di Pulau Jawa. Dia tumbuh cerdas, walau tak bisa
              melanjutkan  kuliah.  Resti  memang  masih  kaku  ketika
              bergurau  denganku.  Dia  kecewa  kepadaku,  karena  telah
              melakukan  perbuatan  bodoh  sehingga  mengantarkanku  ke
              petak sempit yang bejeruji sebagai pembelajaran.
                  ”Alhamdulillah,  salam  untuk  ibu  dan  adik‐adik  ya,  Pak.”
              Terdengar  kalimat  pendek  untuk  segera  mengakhiri
              percakapan.
                                          ***
                  Kupandangi  piagam  penghargaan  dan  sederet  piala
              ketika   memasuki    ruang    tamu.   Langkahku     terhenti


                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 293
   300   301   302   303   304   305   306   307   308   309   310