Page 309 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 309
kesepian, walau berada di keramaian. Rindu membawaku
menyepi ke ujung alam tanpa siapa pun selain diriku sendiri.
Lalu rindu akan merajamku dengan kenangan‐kenangan masa
kecil, senyum ayah dan ibu, kebersamaan bersama keluarga
besar, dan sahabat‐sahabat terbaikku. Begitu tega rindu
menyiksaku, tapi perasaan bersalah dan ribuan penyesalan
malah justru memasungku di tempat yang paling sunyi ini.
Aku menangis lara.
“Aku tidak mau lagi merasakan rindu,” gumamku lirih,
lemah tak berdaya.
“Tetap merindulah pada pada Sang Maha Cinta.” Tiba‐
tiba muncul peri putih yang wajahnya persis wajahku. Belum
sempat kusentuh, ia sudah hilang. Tapi kata‐kata itu terus
menggema.
Profil Pengarang
Hadir di dunia pada Sabtu Kliwon, 15 April 1978 kemudian
diberi nama Tumini. Mengenyam pendidikan hingga S‐1 di
Pekanbaru dan menamatkan S‐2 di Pasca Sarjana UPI
Bandung. Sejak remaja menjadi penikmat sastra. Mengaku
menggandrungi sastra, tapi lebih memilih menjadi guru IPA.
Sekarang bertugas di SMPN 1 Bunguran Timur Natuna. E‐mail
tumini.dahlan@gmail.com.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 297

