Page 307 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 307
Cerita Rindu
Oleh: Tumini
D ulu rindu selalu membuat aku bahagia. Rindu
menyerang hati, memicu ingatan untuk mengunjungi
kenangan. Menikmati sensasi rindu biasanya aku
akan menjadi biduanita yang lihai memilih lagu‐lagu cinta,
sesuai dengan kerinduanku. Kusenandungkan setiap rindu
yang datang menggoda. Aku bahkan bisa menjadi pujangga
dadakan. Puisi‐puisi romantis begitu mudah kuciptakan
dengan menghabiskan berlembar‐lembar kertas di buku
harianku. Ini rahasiaku, tidak ada yang tahu termasuk Arya.
Lagi pula dia tidak suka puisi. Dia lebih suka memecahkan
soal‐soal olimpiade fisika. Kumpulan surat cinta Arya dan
foto‐foto kami jadi senjata menghadapi rindu yang seringkali
datang tanpa mengenal musim.
Dulu rindu tentang sayang dan cinta kami, aku dan Arya,
yang tidak terbendung oleh perbedaan pola pikir. Tak goyah
oleh jarak dan waktu. Rindu menjadi kuas yang melukis
impian bersama penuh warna, indah. Dalam merindu, air
mataku tak jarang menetes, tapi sungguh bukan tentang
kelaraan karena hati yang tersakiti. Ia menetes karena iba
pada hati harus memikul rindu sebesar cinta. Sementara
musim pertemuan masih beberapa purnama lagi. Rindu itu
berat.
Arya menguasai cerita rinduku. Dia selalu menang
menjadi tokoh utamanya, mengalahkan wajah ayah, ibu, dan
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 295

