Page 299 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 299

Ini yang Pertama

                                   Oleh: Tamamah



              G
                     emeretak  roda  koper  membuat  denyut  jantung
                     berdegup  kencang.  Semakin  kencang  bunyi  roda,
                     semakin  kencang  pula  degup  jantung  ini.  “Ya  Allah,
              lindungi  anakku  dari  segala  keburukan.  Berilah  kemudahan
              ketika  tak  ada  keluarga  di  sisinya.”  Semua  doa  kuucapkan
              mengiringi kekhawatiran yang membuncah.
                  Tak sanggup berucap rasa ini. Bahagia, sedih, haru, dan
              bangga  bercampur  di  relung  hati  yang  tak  bisa  kulukiskan
              wujudnya.  Semburat  senja  perlahan  semakin  menipis,
              berganti  menjadi  abu‐abu,  menghitam,  dan  gelap.  Sebentar
              lagi kau akan melangkah. Ah, masih saja aku tak percaya.
                  “Setelah ini kita ke mana ya?” tanyaku memecah canda
              dan kehawatiran yang menyatu.
                  “Ini pengalaman pertamaku,” ucapmu.
                  “Hati‐hati di sana ya. Nak. Jaket, minyak kayu putih, obat
              batuk,  obat  pilek,  dan  inhaler  yang  utama.  Semua  sudah
              dibawa ‘kan?”
                  Satu per satu penumpang mulai berdatangan. Bermacam
              kesibukan terlihat di bandara. Ada yang sibuk dengan barang
              bawaannya, penumpang yang terlihat cemas sambil mencari‐
              cari  sesuatu,  dan  ada  yang  sedang  bercanda  dengan
              keluarganya.  Mungkin  seperti  kami,  yang  akan  melepas
              kepergian satu dari keluarga tercinta.




                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 287
   294   295   296   297   298   299   300   301   302   303   304