Page 297 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 297

“Tapi, Mak?”
                  “Sudah, tak perlu tapi‐tapi. ”
                  Aku  tak  dapat  berkata  apa‐apa.  Kusampaikan  maksud
              mamak  tadi  pada  abang.  Ekspresi  wajahnya  tampak  biasa
              saja.
                  “Aku sudah menyerahkan bisnis ini pada mamak. Aku tak
              sanggup  jika  bersaing  dengan  mamak.  Bisa  jadi  dia  begitu
              karena  bapak  sudah  meninggal,  sedangkan  adik‐adik  belum
              punya  pekerjaan  tetap.  Masih  sering  menggantungkan
              kebutuhan pada mamak.”
                  “Sisil  tahu,  Bang,  tapi  tak  seharusnya  mamak  begitu.
              Biarkan saja adik‐adik mencari nafkah dengan jalannya.”
                  “Mudah  bagimu  bicara  begitu.  Maafkan  dan  lapangkan
              hatimu. Tak perlu bersikap bodoh. Anak‐anak kita butuh umi
              yang hebat untuk mereka.”
                  “Maafkan saya, Bang.”
                  Rian  menghapus  air  bening  yang  mengalir  perlahan  di
              mata  Sisil.  Disentuhnya  dengan  lembut  wajah  Sisil  dan
              dikecupnya  kening  perempuan  yang  telah  menemaninya
              selama  enam  tahun.  Rian  menjatuhkan  badan  Sisil  dalam
              dekapannya.
                                          ***
                  Sisil menata barang‐barang di rumah barunya. Meskipun
              mengontrak, Sisil bahagia. Ia masih memiliki suami dan anak‐
              anak yang mendampinginya. Rian pun sibuk membantu Sisil
              menata  barang.  Keringat  di  dahi  Rian  membuat  wajahnya
              terlihat  mengkilat.  Sisil  bersyukur  mempunyai  suami  yang
              bersikap baik, meski bukan lelaki sempurna. Beruntung Rian
              tak  menceraikannya  karena  kelakuan  mamak.  Kini  Sisil  dan
              Rian menikmati lembaran baru di kampung baru.



                                Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 285
   292   293   294   295   296   297   298   299   300   301   302