Page 296 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 296
Air mata sisil kembali berjatuhan. Namun, kali ini dengan
rasa bahagia yang mengharu biru. Diketiknya beberapa
kalimat membalas pesan Rian. “Afwan ya, akhi. Alhamdulillah
jika keputusan sekarang merupakan petunjuk dari Allah dan
mendapat restu dari mamak. Saya senang mendengarnya.
Insyaallah, pekan depan datanglah sebagai mempelai pria.
Mengucap akad di depan penghulu dengan para saksi.”
Jumat, 4 Rabi’ul Awal. Pernikahan Sisil dan Rian
berlangsung dengan khidmat. Seusai akad nikah, Sisil dan
Rian menandatangani akta nikah. Rian menyematkan cicin di
jari manis Sisil. Acara walimah berakhir sebelum salat jumat.
Tak ada acara resepsi pernikahan, tapi tamu yang datang tak
kunjung berakhir.
Hari‐hari yang dilalui Sisil semakin berwarna. Rian
memutuskan pindah ke kota asal Sisil. Menemaninya
sepanjang waktu. Tanpa ada jarak yang memisahkan.
Meskipun Rian harus meninggalkan pekerjaan tetapnya di
pabrik yang sudah delapan tahun digeluti. Pekerjaan yang
memberikannya penghasilan setara dengan Sisil yang PNS.
Rian selalu menemani Sisil di setiap kelahiran anak
mereka. Sisil tidak mau jika mamak atau orang lain yang
menemani dia melahirkan. Sisil mau hanya Rian saja di sana.
Tak terasa di tahun pernikahannya yang kelima, mereka
sudah memiliki tiga jagoan yang lucu‐lucu. Usaha yang dirintis
Rian pun mengembangkan sayap. Omzet penjualan mencapai
9 juta per bulan. Hingga petaka itu tiba.
“Kapan kau dan suamimu pergi dari sini?”
“Maksud mamak apa?”
“Mamak tak mau menampung kalian lagi.”
284 | 80 Cerpenis MediaGuru

