Page 39 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 39
Putri Lolita
Oleh: Alwiyah
R
aja siang menampakan diri bersama senyum hangat
pagi. Mengusir titik embun yang bergelantung di
ujung daun ilalang di taman depan teras rumah. Kiara
bergegas berkemas. Seolah tak ingin berlomba dengan detak
jarum jam di dinding. Perjalanan waktu dia tempuh bagai
anak pahan melesat dari busur. Begitu cepat. Bahkan, tak dia
hiraukan riang kicau burung menyambut Sang Penguasa
Semesta. Kiara ingin secepatnya sampai di tujuan.
Tiba di gerbang bercat hitam, Kiara disambut ramah
seorang satpam. Lelaki berkumis tebal itu mengabarkan
seorang pria paruh baya menunggunya di lobi sekolah.
Selepas memarkir motor di tempat yang terlindung dari rintik
hujan. Sepertinya tak lama lagi, ia bakal mengguyur bumi.
Langkah kakinya bergegas menuju lobi. Kiara tak ingin
lelaki yang menantinya duduk terlalu lama. Dia ingin segera
bersitatap. Melihat tampang lelaki yang begitu tega
meninggalkan istri dan anak perempuan satu‐satunya. Lelaki
yang tak pulang ketika angin membawa kabar duka bahwa
sang istri telah berpulang. Lelaki yang tega menelantarkan
anak perempuannya sejak balita.
“Selamat pagi, Pak,”
“Maaf, membuat Bapak menunggu,” lanjut Kiara tanpa
berbasa‐basi.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 27

