Page 34 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 34
Aku berdiri dan melangkahkan kaki perlahan
menghampiri ibu. Sudah lama ibuku berbaring di tempat tidur
karena strok yang dideritanya. Aku baru menyadari kalau
sudah saatnya untuk memandikan ibuku. Kupersiapkan air
hangat untuk menyeka tubuh ibu. Perlahan‐lahan kudekatkan
wajahku ke depan wajah ibu. Kudekapkan tangan kiriku ke
belakang punggung. Sementara tangan kananku merengkuh
punggung belakang ibu dari sebelah kanan. Kusandarkan pipi
kananku merajut halus di pipi kiri ibu. Kupapah punggungnya
sampai posisi duduk.
Mata ibuku mulai berkaca‐kaca dan perlahan buliran air
matanya menetes. Aku berusaha menahan air mata agar tidak
menambah kesedihan ibu. Jantungku berdegub kencang dan
hatiku bergelinjang memorak‐porandakan intuisi jiwa yang
semakin tak terkendali. Aku tidak mau menambah beban ibu
terhadap penderitaan yang aku alami. Ibu memang tidak bisa
mengurai isi hatinya melalui kata karena strok. Dia hanya
mampu mengekspresikan isi hati dengan menggerakkan
anggota tubuh atau wajahnya. Dari ekspresi itu aku bisa
menafsirkan apa yang akan ibu sampaikan. Ibu berharap
bahwa aku harus sabar dan menyerahkan semuanya pada
Ilahi. Seperti nama yang ibu berikan kepadaku, Abdillah yang
bermakna menghamba kepada Allah. Jadi, semua kejadian di
muka bumi adalah seizin Allah. Tidak ada satu helai daun pun
yang jatuh ke muka bumi tanpa seizin‐Nya.
Kuseka wajah ibu dengan handuk halus yang berbalut air
hangat. Kuganti baju dan alas tempat tidur yang dia gunakan.
Kutaburi di sekeliling tempat tidur dengan wewangian agar
ibu merasa nyaman di pembaringan. Semerbak aroma
22 | 80 Cerpenis MediaGuru

