Page 33 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 33

“Yah, bagaimana kalau ibu kita titipkan di Pantri Wreda
              biar  Ayah  bisa  fokus  bekerja?”  tanya  istriku  yang  begitu
              mudahnya diungkapkan padaku.
                  Lagi‐lagi  aku  terdiam  mendengarnya.  Hatiku  bergejolak
              tak  karuan.  Gigi  ini  serasa  bergeretak.  Jemari  sudah  mulai
              menyatu  dalam  satuan  kepal  yang  tak  terpisahkan  untuk
              meluncur ke wajah istriku. Hati kecilku masih mengendalikan
              wadak  ini  sehingga  perlahan‐lahan  kepalan  jemari  yang
              menyatu mulai merenggang. Tubuh ini gontai karena kakiku
              mulai  lemah  sehingga  tak  mampu  menopang  tubuh.
              Perlahan‐lahan  tubuhku  menyandar  di  tembok,  luruh  ke
              bawah dan akhirnya terduduk lemas.
                  Aku tidak mungkin menitipkan ibuku di Panti Wreda. Aku
              tidak  mau  nasib  ibuku  sama  dengan  Pak  Rahmad.  Dia
              dititipkan  di  panti  oleh  anaknya.  Tak  satu  pun  keluarga
              menanyakan  kabar  ataupun  menjenguknya.  Bahkan  di  akhir
              hayatnya berwasiat, jika Allah memanggil, jangan beritahukan
              kepada keluarganya.
                  “Yah,  kalau  tetap  pada  pendirianmu  biarlah  aku  pergi,”
              tutur istriku sambil melangkahkan kaki ke luar rumah.
                  Aku  tersentak  dengan  kata‐kata  yang  terlontar  dari
              bibirnya. Aku tidak bisa menahan kehendaknya. Aku tahu diri
              karena akhir‐akhir ini hanya sebatang kayu randu yang sudah
              mulai  mengering.  Butiran‐butiran  biji  hitam  kecil  yang  mulai
              berguguran.  Bahkan  serat  putih  mulai  menguak  ke  luar
              karena kerutan pembungkus yang mulai merekah. Angin yang
              menghempas memorak‐porandakan seratan putih dan jatuh
              melayang.  Dia  terbang  dan  takkan  tahu  ke  mana  akan
              berlabuh.
                  “Abdi.” Suara lirih ibuku terdengar dari dalam kamar.



                                  Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 21
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38