Page 29 - Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta_79 Cerpenis MediaGuru_REVISI_ISBN (2)_Classical
P. 29
Setelah itu, barulah aku menjelaskan yang sebenarnya.
Tampak Pak Arman mulai memahami akan posisiku. Aku
hanyalah anak rantau yang berusaha berlaku baik. Di mana
bumi dipijak di situ langit dijunjung.
Sepulang dari rumah Pak Arman. Kuhempaskan tubuh ini
ke atas tempat peraduanku. Ingin rasanya kuterlepas dari
batu karang yang mengimpitku. Ya, masalah ini sangatlah
berat dan pelik. Harus dengan cara yang terbaik agar tidak
ada hati yang luka dan hancur.
Malam yang dingin dengan berselimut kabut, menambah
beku rasa di hatiku. Tak ada yang dapat aku lakukan. Hanya
mengadu pada Sang Pemilik Jiwa ini agar kumampu meraih
secercah cahaya terang yang akan merubah jalan takdirku.
Malam ini kuniatkan berkomukasi dengan Sang
Pembolak‐balik hati. Percikan air wudu membasahi wajahku
yang terasa kaku karena dinginya malam. Munajatku pada
Sang Pencipta kulakukan di sepertiga malam. Sepekan telah
berlalu. Tapi, hati ini belum juga menemukan kepastian.
Wajah ayu Wiwid selalu melekat dan menari‐nari di
pikiranku. Sementara bayangan Nurul juga tak bisa aku
lepaskan. Kenapa dua orang bidadari yang sama‐sama baik
harus hadir dalam kehidupanku. Wiwid adalah anak seorang
pemilik showroom motor sukses. Sementara Nurul adalah
anak tokoh masyarakat di kampung itu.
Kedua orang tua mereka sangat baik dan perhatian
padaku. Hampir setiap hari kami bertemu di masjid ketika
salat berjemaah. Itulah mengapa aku sangat menghormati
mereka. Karena keakraban dengan orang tua merekalah
akhirnya aku menjadi akrab dengan Wiwid dan Nurul.
Untuk Sesuatu yang Biasa Kausebut Cinta | 17

